Minggu, 18 September 2011

Prelude #3

Minggu, 18 September 2011


Nyatanya, berpisah denganmu tak mengubah apapun
Aku tidak merasa kehilanganmu
Senyumku masih selebar dulu
Bunyi tawaku pun tetap saja terlalu berisik
Tak ada yang berubah
Kecuali mungkin hatiku yang kadang berdenyut perih
Tapi aku yakin, beberapa hari lagi aku akan pulih
Hanya saja, tolong, tolong jangan hubungi aku lagi
Entah karena kamu rindu, butuh, merasa bersalah, atau hanya sekedar ingin tahu kabarku
Aku baik-baik saja, beneran deh :)
Juga jangan khawatir, aku sudah memaafkanmu
Bukan karena kamu layak dimaafkan, tapi karena aku ingin mengobati lukaku
Dan manakala kau butuh aku, maaf
Sekarang aku tidak bisa lagi ada untuk memperhatikan kamu
Jalan kita sudah beda, kamu sendiri yang bilang begitu
Sudah ya, lepasin aku :)
Bahagia sama dia,oke?
Aku juga akan menemukan bahagiaku sendiri :)

Minggu, 28 Agustus 2011

Prelude #2

Minggu, 28 Agustus 2011


Aku sudah hampir lupa bagaimana rasanya
Jadi ini yang namanya patah hati?
Rasanya seperti ditampar. Diperingatkan. Disadarkan kalau aku tidak boleh terlalu bahagia.
Barangkali bahagia enggan menetap terlalu lama.
Mungkin ini adalah harga yang harus dibayar untuk setiap tawa, perhatian, dan genggaman tangan .
Untuk setiap binar mata, angin malam, dan semua kisah menyenangkan.

Mungkin ini adalah harga yang harus dibayar untuk bersamamu.

Selasa, 23 Agustus 2011

Prelude #1

Selasa, 23 Agustus 2011


Tidak semua hal harus dipahami. Beberapa hanya perlu dijalani,dinikmati, meski arusnya membawa kita keluar dari ambang kewarasan. Seperti menyukaimu, misalnya.



Senin, 16 Mei 2011

Beauty is A Pain

Senin, 16 Mei 2011
Yeah, beauty is a pain,dude. Kalau nggak percaya, silahkan saja coba facial.

Facial= membayar untuk disiksa.

Saya nggak tahu kenapa saya bisa kepikiran untuk facial. Awalnya sih,saya merasa hidung saya kayak parutan− banyak banget komedonya. Lalu saya iseng-iseng ngajak teman saya facial. Yah, sekalian mengisi waktu libur gitu. Jessica dan Raina setuju, Haunina ogah. Katanya,”Nggak ah, aku takut facial. Aku nemeni kalian aja,deh.”

Saya tahu kalau facial itu sakit. Tapi saya nggak tahu kalau ternyata facial itu bener-bener sakit mampus.

Pertamanya enak sih, dipijeti, dikasih krim-krim wangi… Namun setelah penguapan,si mbak-mbaknya ngasih saya tissue. Batin saya,”Ni tissue buat apa sih? Nggak penting banget.”

Lalu si mbak-mbaknya bilang dengan suara lembut nan menggoda,”Maaf ya kak, ini akan terasa sedikit sakit.” Saya mah ngangguk-ngangguk aja.  Tapi setelah dia ‘bereksperimen’ dengan wajah saya, buset, INI SIH NAMANYA NGGAK SEDIKIT SAKIT LAGI! Ini adalah banyak-banyak-banyak rasa sakit. Wajah saya serasa ditusuk-tusuk dengan jarum (saya curiga mereka memang pake jarum beneran).

Sewaktu sampai di bagian hidung, saya sudah nggak tahan lagi. Rasanya pengen teriak,”Bodo! Ambil aja uang saya! Ambil semuanya! Saya mo pergi!”, trus keluar ngacir dengan masih pake kemben. Tapi sayangnya, ide gila itu nggak saya laksanakan, jadi saya cuma meringis-ringis kesakitan dan berharap semoga siksaan ini segera berakhir.

Sekarang saya tahu kenapa mereka member saya tissue: untuk mengelap air mata! Yep, air mata saya sampai meleleh saking sakitnya. Ternyata, kesakitan yang luar biasa bisa memacu kenerja kelenjar air mata lho teman-teman! (sok ilmiah banget sih lu,Vit)

By the way anyway busway, sehabis facial, hidung saya yang tadinya mirip parutan, sekarang jadi mirip prosotan.  Yeaah, paling nggak komedo saya ilang lah -__-"

Minggu, 15 Mei 2011

A Crazy Little Thing Called Love

Minggu, 15 Mei 2011
klik untuk memperbesar gambar

One of my favorite scene :)

This is a very recommended movie. Nonton film ini bikin ngakak-ngakak, nangis bombay, dan membatin “Damn, I miss my highschool!”

Yep, film ini bisa membawa anda bernostalgia tentang masa-masa SMP/SMA anda.  Tentang cinta pertama, ngefans senior yang populer, punya sahabat yang ancur-ancur  but always support you, dan kisah-kisah SMA lainnya yang selalu manis untuk dikenang.

Tonton deh, bagus banget :)
*kehabisan kata-kata untuk mendeskripsikan film ini*


For three years, I have done everything. I changed because of you. I applied for classical dancing club, I acted on a play, I became a drum major, I studied harder — it’s all because of you. But now I know, the thing I should have done instead — the only thing I should have done a long time ago — is tell you that… I love you.
A Crazy Little Thing Called Love

source gambar:
yang atas= bikin sendiri
yang bawah = http://ohmariomaurer.tumblr.com

Senin, 11 April 2011

HOW TO LIFE YOUR LIFE TO THE ABSOLUTE FULLEST

Senin, 11 April 2011


1.    menari di bawah hujan; nggak peduli diliatin orang banyak dan dikira stress
2.    mbolang: keliling Semarang,sendirian, gak bawa kendaraan, gak bawa uang (tapi bawa credit card buat jaga-jaga :p), cuma bawa air mineral dan kamera buat merekam hal-hal menarik yang ditemui di jalan.
3.    naik Kora-Kora di pasar malam
4.    atau masuk rumah hantu dan jerit-jerit sepuasnya disana
5.    mancing di sungai Thames, Inggris
6.    sholat di Mekah
7.    bikin istana pasir di Gurun Sahara
8.    mendaki puncak Gunung Jaya Wijaya
9.    berbaring di atas tanah dengan alas dedaunan kering musim gugur di Jepang
10.    wisata alam liar di Afrika
11.    menunggang benteng liar di Spanyol
12.    makan roti bakar dan secangkir kopi di kafe pinggir jalan di Prancis
13.    memerah sapi di Swiss
14.    intinya keliling dunia
15.    merombak total kamar: mengecat tembok dengan warna-warna neon, pasang hiasan-hiasan keren, ekspresikan dirimu!
16.    bakar semua buku Kalkulus
17.    jadi tutor buat anak-anak jalanan
18.    ke pantai−berdiri di atas batu karang, lalu teriak sekenceng-kencengnya
19.    daftar lomba debat bahasa Korea walaupun tahunya cuma ’saranghae’ dan SNSD
20.    ikut acara kompetisi di TV, syukur-syukur pulang bawa jutaan
21.    kalaupun gak menang, paling nggak bisa nampang di TV
22.    foto bareng SM*SH
23.    buat novel, buat komik, atau buat apa aja asal ada nama kita terpampang besar-besar di cover depan
24.    ke kebun binatang seharian sama adik, jangan lupa jeburin dia ke kolam buaya
25.    parasailing
26.    terjun payung
27.    surfing
28.    ke Malioboro, minta mas-mas pelukis jalanan buat melukis kita, lalu pampang sketsa wajah kita di kamar (sebelumnya ingetin mas-masnya agar membuat lukisan kita mirip sama Marshanda)
29.    menyusup di acara kondangannya artis yang mau nikah
30.    pergi ke desa, jadi anak desa seharian penuh: mandiin kebo di sungai, menanam padi, makan siang di gubuk tengah sawah sambil menikmati angin sepoi-sepoi
31.    kasih hadiah-hadiah keren dan agak mahal ke orang serumah meski tidak dalam rangka apapun
32.     (sewaktu liburan) sambangi semua rumah teman satu persatu, itung-itung mempererat tali silaturahmi
33.    mengadopsi bayi harimau Sumatra
34.    jatuh cinta sebebas-bebasnya, selepas-lepasnya. Don’t be afraid to get hurt
35.    buat surat cinta paling spektakuler, lalu berikan ke orang yang kita sukai (trus habis itu langsung kabur, dan pindah fakultas)
36-999. tulis semua hal-hal keren dan tidak pernah kamu bayangkan sebelumnya
1000. lakukan semua itu.

Kamis, 31 Maret 2011

DSLR oh DSLR

Kamis, 31 Maret 2011


Punya Tumblr bikin saya ngebet banget punya DSLR -__-

Gimana nggak kepengen, di Tumblr saya dicekoki gmbar-gambar keren seperti yang di atas. Saya yang sejatinya nggak suka fotografi jadi tertarik belajar ilmu foto.

Tapi sayangnya kamera HP saya sudah terlalu gapuk untuk foto-foto, hiks…

Tuhaaan, tolong turunkan hujan DSLR… Eh jangan ding, ntar DSLR-nya rusak kalo jatuh. Iya kalo DSLR-nya jatuh ke tanah, kalo kena kepala orang kan berabe...

Ganti doa deh :p

Ya Tuhan, kirimkan paket DSLR ke pintu depan rumah saya. Plis, saya kepengen banget punya DSLR, tapi kalo pake tabungan saya, saya harus nunggu 4 tahun lagi baru bisa beli, secara uang bulanan saya nggak pernah sisa. Saya juga nggak mau minta uang ke ortu, saya udah gede, udah nggak pantes lagi minta-minta duit ke orangtua.

Kalau emang bukan jatah saya untuk punya DSLR, hamba mohon jauhkan segala hal yang membuat hamba kepengen DSLR, Ya Allah. Mendingan duitnya ditabung buat naik haji ntar atau buat beli buku gambar baru aja. Amiiin...

*tapi saya bener-bener kepengen DSLR Ya Allah.... plis kasih saya DSLR :(

Senin, 28 Maret 2011

Ngubek-ngubek Postingan Lama

Senin, 28 Maret 2011
Saya habis ngubek-ngeubek folder di komputer dan saya menemukan satu web page berjudul: Readlicious

Saya familiar banget sama tu nama. Itu nama blog-nya teman senasib sepenanggungan saya, Jacob. Begitu saya baca tulisannya tu anak, damn, I miss his writing! Saya kangen saat dia nulis ancur-ancuran kayak dulu. Menulis sepenak udelnya, tapi bikin ketagihan untuk dibaca.

Langsung saya sms dia: “Coob, aku habis baca portingan blogmu yang Juli 2009 lhoo *bangga*. Kangen kamu nulis ancur-ancuran kayak dulu,hahaha.”
Yang dia balas dengan: “Haha, terimakasih -__- . Saya masih sibuk sekali mengurus mayat sama kodok, ditambah statistik yang menggerus.

Ternyata bukan cuma saya yang dipusingkan dengan statistika -__-”

Man, this college thing is killing us

Saya juga ngubek-ngubek arsip lama blog. Saya baca tulisan saya yang amat sangat jauh lebih ancur daripada punya Jacob.

Damn, I miss how I used to be.

Saya kangen saya bisa menulis lepas seperti dulu. Nggak peduli kosakata yang ancur dan grammar yang berantakan. Nggak peduli mau dikomen kek, nggak kek, pokoknya saya menulis buat diri sendiri.

Ya, hanya buat saya sendiri.

Dulu saya bisa menulis dengan begitu jujur.

Dan ancur, hahaha.

Baca postingan-postingan lama saya seperti mengubek-ngubek masa lalu. Wah, ini waktu saya ultah ke-18. Oh, ini kok sudah ultah ke-19, ya? Nah, kalo ini waktu saya dipaksa minum jus lobak sama ibu saya. Ini waktu stres mau ujian nasional!

Dan sewaktu baca postingan ‘Pacaran???’ bikin saya membatin, “Kok saya dulu polos sekali ya? Hahaha…”

God, I miss my old time :(

Jumat, 25 Maret 2011

Bangun! Lakukan sesuatu!

Jumat, 25 Maret 2011
Setiap saya pulang/pergi dari ke kos ke rumah, saya pasti melewati suatu jembatan penyebrangan, yang dimana di bawahnya tinggal tunawisma. Selama ini saya tidak begitu memperhatikan, saya hanya merasa kasihan kepada mereka −namun setelah sampai rumah, saya sudah lupa.

Tadi siang, setelah menjemput adik saya dari sekolahnya, saya kembali melewati mereka− namun kali ini lebih dekat. Ya ampun, ternyata yang tinggal disana adalah seorang nenek-nenek dengan seorang bayi. Dan sepertinya bayi itu sedang sakit, soalnya tadi si bayi menangis keras sekali dan si nenek sedang mengusap-usap punggung bayi itu dengan minyak angin (dari baunya sih begitu)

Melihat pemandangan itu, saya merasa bersalah. Bersalaaah sekali, sampai rasanya ingin menangis. Saya ingin membantu, tapi saya bisa apa coba? Saya bisa memberi uang, tapi mereka butuh lebih dari uang! Dedek bayi itu butuh selimut hangat, butuh susu, butuh bubur bayi, butuh obat, butuh pakaian, butuh makanan sehat, butuh tempat tinggal yang layak. Sekedar informasi saja, tempat mereka tinggal itu KUMUH SEKALI. Di kanan kiri mereka banyak sampah, tempatnya lembab karena sering tergenang air− sementara mereka hanya tinggal beralaskan koran kotor dan beratap jembatan.

Dan nenek-nenek itu sudah terlalu rentan− bahkan untuk meminta-minta pun sepertinya sudah tidak mampu :(

Di saat seperti ini, saya bertanya-tanya, “Dimana bantuan pemerintah buat mereka? Apakah pasal 34 ayat 1 yang berbunyi, ‘Fakir miskin dan anak terlantar dipelihara oleh negara’ hanya berfungsi sebagai kamuflase? Mana aplikasinya di dunia nyata?? “

Saya juga merasa marah dengan orang-orang. Begitu banyak orang yang lalu lintas di depan nenek dan bayi itu, tapi mengapa tak seorangpun terlihat peduli? Mengapa tak ada yang membantu? Namun, saya menyadari satu hal yang ironis: Saya adalah salah satu dari mereka! Hanya lewat, merasa kasihan sejenak, namun tidak melakukan apa-apa!

Rasa kasihan tidak akan membantu mereka. Mereka tidak akan kenyang karena kita merasa kasihan kepada mereka. Tidak akan merasa hangat karena kita merasa kasihan kepada mereka. Adik bayi itu tidak akan tiba-tiba sehat karena kita merasa kasihan kepada mereka.

Bangun! Lakukan sesuatu!

Manusia itu menyedihkan, bukan? Sejenak merasa peduli, tapi setelah itu kembali ke ambisi masing-masing. Berlomba-lomba mencari uang, menumpuk kekayaan. Giat menabung untuk membeli laptop baru. Berfikir-fikir dahulu untuk bersedekah, padahal untuk membeli pulsa setiap hari pun tidak perlu berfikir lama.

Belajar keras agar mendapat IP tertinggi atau berdandan cantik agar banyak yang ngefans. Merasa menjadi orang yang paling sengsara di dunia hanya karena gebetannya menyukai orang lain.

Padahal nenek dan bayi itu sedang berjuang untuk hidup. Sore ini mereka makan apa? Kalau malam ini hujan, mereka mau tinggal dimana? Karena setahu saya, mereka tetap tinggal disana meskipun pinggiran jembatan penyebrangan itu tergenang air.

Lalu, bagaimana kalau kesehatan adik bayi itu memburuk, lalu meninggal? Bagaimana kalau nenek itu yang meninggal terlebih dulu? Apa yang akan terjadi pada si adik bayi tersebut? Menangis sendirian? Meraung-raung kelaparan, memanggil-manggil neneknya yang tidak bangun-bangun lagi?

Saya benci memikirkan hal itu, padahal kemungkinan hal itu terjadi sangatlah besar.


Tuhan, saya bisa bantu apa?

Selasa, 08 Februari 2011

February Gift

Selasa, 08 Februari 2011
Nggak, saya nggak akan membagikan kamera SLR atau mobil Toyota (buset dah, saya aja nggak punya). Saya cuma akan membagikan gambar-gambar absurd saya,hehehe.. Iya, itu emang judulnya aja yang lebay. Maaf telah membuat anda kecewa

Gambar-gambar ini buat kalian semua yang sering mampir ke blog saya− baik yang sering komen ataupun yang cuma membatin: ”Sial, sepertinya aku salah masuk blog",  buat semua yang suka bulan Februari dan buat semua yang ngefans berat dengan Harry Potter. Enjoy :)







nb: Ayo ayo yang ngefans sama Harry Potter, bisa tebak nggak, itu siapa saja? :3

Minggu, 30 Januari 2011

Goodbye January, Hello February!

Minggu, 30 Januari 2011

Saya selalu ingat dengan apa-apa saja yang terjadi di bulan Februari. Bukan karena di bulan itu ada banyak kenangan baik atau kenangan buruk. Tapi entah kenapa suasana bulan Februari selalu melekat di otak saya− saya bisa mengingat detil dan rasanya seakan itu baru terjadi kemarin.

Februari tahun lalu. Buat kelas 3, Februari itu masa-masa di mana kamu banyak tambahan, banyak bimbel, banyak kertas-kertas materi yang harus dikerjakan, banyak solat sunah di Masjid, dan banyak hujan. Hampir setiap hari suasananya basah. Tapi saya suka :). Yang paling saya suka itu melamun pagi-pagi di kantin dekat jendela-jendela besar, memesan energen hangat lalu memandangi lapangan belakang yang berembun.

Februari dua tahun lalu. Jauh lebih basah daripada Februari tahun lalu. Hujan deras tak henti-henti. Terkadang berangkat sekolah jam 6 pagi, suasananya seperti jam 5 sore. Perlengkapan yang wajib dibawa yaitu jas hujan dan sandal jepit cadangan. Saya pernah nggak bawa sandal jepit, akhirnya saya menghabiskan hari itu dengan sepatu dan kaos kaki basah di ruang ber-AC. Brr...

Februari tiga tahun yang lalu. Cukup cerah, walau kadang hujan disana-sini. Yang pasti lapangan depan selalu tergenang air. Saya agak lupa apa yang saya lakukan Februari tahun ini, saya ingatnya sih waktu itu saya selalu membawa kertas warna dan buku gambar− memanfaatkan waktu-waktu istirahat dengan membuat kartu Valentine, hehehe...

Jadi saya tahu kenapa dari duabelas bulan, Februari yang paling saya ingat. Karena Februari penuh hujan, dan hujan membuat semua kenangan mudah melekat dalam saraf abu-abu di otak kita. Hmm, apa benar begitu? Yah, mungkin kelak saya akan melakukan penelitian tentang substansi-substansi yang terkandung dalam air hujan.

Bulan Februari tahun ini, ada kenangan apalagi ya?
 
Tauk- Ah - Gelap © 2008. Design by Pocket