Minggu, 20 Oktober 2013

Hardwork Never Betray You

Minggu, 20 Oktober 2013
Malam itu, saya pulang rapat Manunggal, menempuh perjalanan lima puluh menit untuk dapat menikmati kasur berlapis matras empuk.

Lalu saya melakukan ritual yang biasa; berganti pakaian, menyalakan laptop, lalu membuka twitter, meski tidak ada hal berarti disana.

Mata saya menangkap akun penerbit Bukune, yang sedang menyelenggarakan kuis bagi buku, entahlah, saya tidak mengikut. Tapi tetap saja saya membuka akun tersebut, scroll sampai ke bawah. Ada hastag #tanyaKune, dan saya gatel ingin mengetik: “Kapan pengumuman lomba novel, Kuneee??”

Memang, sejak dari bulan Januari lalu, saya menghabiskan malam saya dengan bergadang membuat novel, dan paginya untuk magang dan kuliah. Semester gila kalau boleh saya bilang. Bahkan sewaktu UTS saya masih tidak tahu apa saja materi perkuliahan, karena saya masih magang di salah satu Bank ternama.

Tapi toh saya berhasil menyelesaikan novel pertama saya- dengan penuh perjuangan tentunya. Sewaktu KKN bulan Januari lalu, sebelum tidur siang, saya (iseng lagi) membuka akun twitter Bukune, dan saya menjerit tertahan ketika melihat pengumuman berikut.
Pengumuman 20 Besar
Dua puluh besar. Rasanya seperti mimpi. Saya langsung sujud syukur, keluar kamar, lalu memeluk teman-teman KKN saya yang sedang glesotan gak jelas sambil menonton film itu. Ya Allah, saya lupa kapan terakhir kali saya sebahagia ini.

Lalu saya mengirimkan persyaratan yang diminta: tiga eksemplar print out novel. Untungnya, KKN tahun ini ada jeda libur lebaran, jadi saya pulang ke Semarang. Saya buat ringkasan novel, kelebihan dan kekurangannya (sumpah, saya stuck disini), dan menggambar tiga cover untuk novel saya. Sampai waktu itu saya sempat diomeli oleh sahabat saya, Shani, karena sudah mau mendekati deadline dan saya masih saya berkutat dengan cover (yang padahal tidak ada hubungan dengan elemen penilaian) (ah maaf, saya terlalu suka menggambar).

cover Forget-Me-Not
 Sempat bingung juga karena waktu itu semua fotokopian sudah tutup. Saya sampai pergi ke daerah Undip Pleburan, menjilid spiral, dan mengirim via pos yang biaya kirimnya hampir lima puluh ribu. Maaf saja Pak Pos, buat mahasiswa yang keuangannya masih ditunjang beasiswa seperti saya, biaya lima puluh ribu itu sempat membuat saya bertanya kepada teller: “Ha? Berapa Mbak?”

Itu di bulan Agustus. Dua bulan sudah berlalu, dan tidak ada pengumuman sama sekali dari Bukune, membuat saya sedikit hopeless. Apalagi melihat sebagian besar nama pada 20 besar sudah menerbitkan beberapa novel. Tapi saya terus berdoa, plus memaksa orang-orang terdekat saya untuk mendoakan saya. Kadang kalau rasa pesimis saya mulai kambuh, saya berkata,” Ah, dua puluh besar juga sudah lumayan, mungkin nanti bisa dikirim lagi ke penerbit lain kalau belum menang.”

Lalu kembali ke tiga malam yang lalu, di tengah penantian, saya mengetik hastag #TYAR Bukune, berharap pengumuman sudah keluar. Detak jantung saya tidak beraturan ketika saya melihat beberapa orang mengucapkan selamat pada nama-nama yang saya kenal sebagai finalis 20 besar. Saya scroll ke bawah lagi, semakin nervous. Tidak ada yang menyebutkan nama saya. “Ini pengumumannya lihat dimana sih?” Saya setengah histeris waktu itu, kenangan saat melihat hasil ujian masuk universitas terulang lagi.

Lantas saya membuka tumblr bukune, membaca kata pengantar dari panitia lomba dengan perasaan tidak karuan. Tangan saya sudah gemetar melihat daftar pemenang. Lalu disana, di daftar kedua pemenang, saya menemukan nama saya.


 Kalau saja ada kata yang bisa menjelaskan perasaan saya waktu itu.
Alhamdulillah, Alhamdulillah, Allahu Akbar, Ya Allah terimakasih :’)
 
Tauk- Ah - Gelap © 2008. Design by Pocket