Sabtu, 28 November 2015

Mengagumi diam-diam

Sabtu, 28 November 2015





Kagum. Mungkin, itu yang terlinas di benak setiap orang ketika pertama mengenalnya −termasuk aku. Dia seperti ensiklopedia berjalan. Tidak. Ia seperti perpustakaan penuh ensiklopedia yang berjalan. Sungguh, pengetahuannya, tentang ilmu pasti, sosial, sejarah, sampai musik membuat siapa saja berdecak.

Dia sangat populer. Saat aku bertemu seseorang di sebuah acara di Jogja, orang itu berkata hampir semua orang di kampusnya mengenalnya. Barangkali, ia seperti magnet yang menarik orang-orang dari berbagai jurusan. Tentu saja. Cara dia mengemukakan ide-idenya. Bagaimana matanya berkilat setiap ia bicara tentang ilmu pengetahuan. Nada penuh antusias dalam suaranya ketika ia menanyakan hal-hal yang membuatnya penasaran seperti sintaks program atau takdir manusia.

Aku sudah mengenalnya sejak lama meski tak benar-benar mengenalnya. Baru akhir-akhir ini aku tahu sedikit banyak tentang dirinya. Tentang hal-hal seperti mimpi dan masa depan yang disinggung sekilas dalam obrolan kecil kami. Dan, setelah aku lebih mengenalnya, ada masa-masa dimana aku perlu menenangkan jantungku dan berkata, ‘Jangan goyah. Jangan goyah.’

Lucu. Kapan terakhir kali aku membisiki hatiku agar tidak jatuh cinta pada seseorang? Rasanya sudah lama sejak waktu itu.

Ah, Maret. Sepertinya kau punya saingan.

Kamis, 26 November 2015

Milo [1]

Kamis, 26 November 2015

Prolog




‘Markas’ kami berada di lingkungan sepi di pusat pecinan. Sebagian besar rumah tertutup dengan pagar-pagar besi tinggi yang berkarat disana-sini. Satu blok di belakang ‘markas’ kami, terdapat taman luas yang dipenuhi ilalang kering. Sebuah ayunan yang menimbulkan bunyi berdecit saat digunakan terpancang di salah satu sisi taman. Pada sisi taman yang lain, di atas sepetak tanah hitam tanpa rumput, yang menurutku adalah hasil pembakaran ilalang yang disengaja, Milo menghabiskan sebagian besar waktu sorenya. Ia duduk beralaskan sandal bututnya yang alas bagian depannya sudah menganga, seperti mulut buaya yang mencari mangsa. Dia hampir selalu membawa buku catatannya yang penuh dengan selipan kertas-kertas dan menekurinya, seolah buku tersebut mencantumkan jawaban atas terciptanya semesta. Dia baru sadar matahari sudah bergulir ketika surau di seberang taman menyuarakan adzan. Berdirilah dia, menepuk-nepuk celananya yang penuh tanah lantas memakai sandal yang ujungnya sudah menganga, menuju surau.

Kadang aku mengikutinya beribadah meski aku bukan orang yang banyak percaya akan kekuatan doa. Namun, aku suka melihat orang-orang disana melinting lengan baju dan celana mereka, lalu membasahi tubuh mereka dengan air wudhu. Mereka menggelar sajadah di atas karpet surau yang sudah kumal dan bau apak, lantas bersila di atas sajadah mereka. Sebagian dari mereka berkomat-kamit, tapi Milo tidak termasuk orang-orang itu. Ia hanya duduk tenang di atas sajadahnya, memandang ruang kosong di hadapannya, entah memikirkan apa. Kadang, aku ingin menyelami pikirannya, mengetahui sedikit tentang dunianya. 

‘Apa yang kamu pikirkan, Milo? Apa mimpimu?

‘Apa ketakutan terbesarmu?’
***


Jadi,

Saya menemukan satu naskah yang saya tulis setahun silam. Kisah ini, bagi saya... tidak biasa. Bukan cerita cinta yang manis seperti yang saya tulis sebelumnya, malah memang tidak dimaksudkan untuk menjadi cerita cinta. Untuk kisah ini, saya memiliki suatu potongan-potongan di kepala, visualisasi yang menyerupai adegan-adegan dalam film. Nah, disanalah saya mengalami kesulitan. Menulis novel dan naskah film jelas dua hal yang sangat berbeda. Lagipula, Milo ini karakter yang cukup berbeda dari karakter-karakter yang pernah saya tulis. Dia hidup di dunia abu-abu. Saya ingin membuat orang yang membaca tentangnya merasa sebal, marah, tapi juga bersimpati. Bagaimana caranya membuat pembaca membenci karakter yang kamu ciptakan tapi juga bersimpati? Haha. Disinilah keseruan dalam menulis.

Namun, saya tidak tahu apakah saya bisa menyelesaikan kisah ini. So many ideas, so little time. Doakan saja, siapapun yang membaca ini, agar saya segera bisa menyelesaikan cerita ini dengan penceritaan yang sebaik-baiknya.

Regards,
Vita

Jumat, 13 November 2015

Tentang Perantauan

Jumat, 13 November 2015






Jumat, 13 November 2015, selepas hujan.


Saya tidak menyangka sudah delapan bulan saya tinggal di Jakarta (benar-benar tinggal, bukan perjalanan pulang pergi Jakarta-Semarang) dan saya merasa baik-baik saja. Tentu, tidak selalu baik, tapi yang jelas jauh lebih baik dari kali pertama saya menginjakkan kaki di kota metropolitan ini.

Jakarta adalah satu dari beberapa kota perantauan saya. Tidak, tulisan ini tidak akan bercerita panjang lebar tentang kesan saya mengenai Jakarta, tapi, disini, saya dipertemukan dengan orang-orang yang membuat saya merasa bersyukur. Sulit bagi saya untuk berteman dengan orang baru, tapi, nyatanya, saya punya sahabat baru yang membuat kami berbincang sampai pukul dua pagi (padahal besoknya masuk kantor) dan baru berakhir setelah kami memasang headset agar kami berhenti berbicara. Saya juga bertemu seorang teman lama dan kami bersama teman-temannya (yang juga menjadi teman baru saya) sering menikmati malam dengan hal-hal yang menyenangkan.

Hal-hal yang menyenangkan disini salah satunya memesan coffee latte, mendengarkan live music, dimana orang-orang ikut menyanyikan lagu dan bertepuk tangan. Dan, di sela-sela lagu, kami berbincang tentang sains, mimpi, dan kehidupan.

Oh, I’m feeling so alive.

Saya juga bertemu seseorang yang secara tidak langsung mengajarkan bahwa seorang wanita harus kuat.
Tahun ini memang memberikan banyak arti pada diri saya. Setelah tahun kemarin yang begitu banyak struggle, air mata, dan hal-hal depresif, tahun ini saya ditempa untuk tidak menye-menye. Bahwa masalah itu selalu ada, dimana pun kita, tapi intinya bukan terletak pada masalah itu, melainkan bagaimana kita menghadapinya. Terdengar klise, mungkin. Saya sendiri kadang beranggapan hal tersebut adalah bullshit. But as Murakami said, pain is inevitable, suffering is optional and to this day, it is the truest thing I ever heard.

Yang jelas, melihat perjalanan saya dua tahun ini, saya ingin mengatakan bahwa saya bangga dengan diri saya. Ketika semasa kuliah hal-hal yang membuat bangga adalah menjuarai kompetisi atau memiliki karya, kali ini, saya bangga bisa melalui masa-masa sulit dalam hidup saya dan masih bisa menikmati hidup.

Tahun depan, saya ingin merantau lagi. Entah keluar Jakarta, atau keluar Indonesia. Ah, ya, saya masih punya mimpi untuk S2 di Inggris. Juga mimpi memiliki perkebunan kopi/ teh di Ciwidey, Bandung atau Wonosobo. Yang jelas, merantau membuat pandangan-pandangan saya tentang hidup berubah. Saya menjadi lebih mandiri, lebih berani, lebih bisa bersikap, juga lebih bisa memasrahkan segala sesuatu kepada Allah. Yang terakhir, itu, adalah hal yang benar-benar saya baru pelajari setelah dua tahun ini.

Omong-omong, saya menulis ini karena sebentar lagi saya ulang tahun, dan berdasarkan statistik beberapa tahun terakhir, setiap bulan ulang tahun saya merasa sedih. Karena itu, saya harap, manakala saya merasa down, saya bisa membaca tulisan ini dan merenung (Woi, Vita di masa depan, baca!)

Omong-omong lagi, hari ini bapak saya ulang tahun.

Selasa, 08 September 2015

September (2)

Selasa, 08 September 2015


Sudah berapa lama sejak aku mengenalmu? Masih saja aku harus meraba-raba, mencoba menyelami isi kepalamu. Kau punya banyak kejutan kita berdua punya. Dan yang kupahami dari masa-masa itu adalah bagaimana takdir mempertemukan kita dua orang yang sangat mirip, tapi juga sangat berbeda.

Barangkali kita terlalu terburu-buru. Kita jatuh cinta dan berharap bahwa aku dan kamu adalah kunci akhir yang bahagia. Untuk dua orang yang cynical tentang cinta dan perasaan, mungkin hal tersebut dapat dipahami. We’re both just two broken people who try to repair each other, complete each other.

Namun, ada banyak hal yang tidak bisa kita perbaiki tak peduli seberapa besar perasaan kita, seberapa keras kita mencoba. Hidup mengalir di tepian takdir, sayang. Tak peduli seberapa besar usaha kita, kisah ini bukan kita yang menentukan. 

Cerita ini bukan milik kita.

Sama seperti hidup dan mati ini bukan milik kita. 

Entah mengapa memiliki pikiran seperti itu membuatku tenang.

Aku sudah berusaha sekuat yang aku bisa, dan aku pun tahu kamu juga begitu. Jika memang ini tak berhasil, ya sudah. Toh, aku dan kamu sama-sama meyakini bahwa Allah adalah sutradara terhebat. Ia menyimpan kisah terbaik untuk kita.  Dan dengan ini, tak ada yang perlu disesalkan.


Hey,

Ingat ketika kita berdua duduk di bangku kayu di sepanjang jalan GI? Kita duduk bersebelahan tak terlalu jauh, tak terlalu dekat memandang jalan di depan kita yang sedang dibongkar. Aku ingat betul, waktu itu, kita sedang menelusuri kisah-kisah kita di masa lalu, menekuri awal mula kita bersama, juga berbagi rahasia yang kita simpan rapat-rapat dari orang lain. 

Ingat ketika aku memandang matamu,  dan berkata, “I’m glad I met you.” ?
 
I really meant it.

And I know you meant it too, when you looked back at my eyes and said,

“Me, too.”


 
Tauk- Ah - Gelap © 2008. Design by Pocket