Sabtu, 28 Februari 2015

Prelude #4

Sabtu, 28 Februari 2015



Halo

Ingat tidak, ketika dulu kamu sering meneleponku? Dan ketika aku bertanya apa yang sedang kamu lakukan, hampir setiap waktu, kamu menjawab kamu sedang duduk di teras rumahmu, bermain gitar.
Aku selalu membayangkan seperti apa rumahmu. Apa warna ubin di terasmu? Apakah gelap atau bercorak? Pemandangan apa yang kamu lihat setiap bermain gitar? Rumah tetanggamu ataukah bunga yang ditanam oleh ibumu di halaman?

Ingat tidak ketika dulu kamu bercerita tentang keluargamu? Aku selalu membayangkan bertemu kakak-kakakmu. Apakah mereka secantik di dalam foto? Bagaimana mereka memperlakukanmu sebagai anak bungsu?
Ingat ketika kamu memintaku untuk menelepon ibumu saat beliau berulang tahun, tapi tidak kulakukan karena aku malu? Aku selalu membayangkan bagaimana suara ibumu. Ibu seperti apakah beliau? Apa yang sering kalian bicarakan saat sedang berdua? Bagaimana rasanya berbincang dengannya?

Ingat tidak ketika kamu memainkan gitarmu untukku? Kamu menggumamkan nada di antara petikan-petikan gitarmu, dan aku tertawa kecil, mendengarkanmu memilah-milah lagu yang menurutmu akan aku sukai. Begitu seterusnya sampai kita berdua tertidur dengan ponsel menempel di telinga. Aku selalu ingin tahu seperti apa gitar yang selalu kamu mainkan itu. Apakah sewarna kayu ara atau coklat mengkilap? Apakah terlihat baru atau sudah tua? Polos ataukah penuh stiker disana-sini?

Ingat tidak ketika kamu selalu berkata bahwa aku harus ke kotamu dan kamu akan mengajakku berkeliling kota yang kamu bangga-banggakan itu? Aku selalu membayangkan seperti apa lingkunganmu. Seperti apa teman-temanmu? Seperti apa jalan yang kamu lalui setiap harinya? Seperti apa wangi hujan di kotamu?

Semua bayanganku tentang kisah-kisahmu tampak jelas sekarang. Aku tahu teras rumahmu. Aku tahu tanaman-tanaman yang berjajar di sepanjang pagar rumahmu. Aku tahu pemandangan yang kamu lihat setiap kamu memainkan gitarmu di teras. Aku tahu bata berwarna abu-abu di halaman rumahmu. Aku tahu piring-piring yang kamu pakai untuk makan. Aku tahu gitar berwarna coklat muda yang kamu sandarkan di ujung ruangan.

Aku melihat kakak-kakakmu. Aku menjabat tangan ibumu dan mendengarkan suara halusnya saat kamu mengenalkanku. Mereka cantik.

Aku juga tahu seluk beluk kotamu. Bagaimana tidak? Aku menghabiskan waktu dua jam, tersesat, berputar-putar di tempat yang sama beberapa kali. Aku menyesap wangi hujan di kotamu. Aku mengenali bangunan-bangunan yang pernah kamu ceritakan. Aku bahkan berkenalan dengan teman-teman masa kecilmu.

Setelah tiga tahun, semua kisahmu tampak begitu nyata.

Karena itulah aku tidak paham, mengapa kali ini, semuanya tidak berarti apa-apa. Kukira aku akan senang ketika semua kepingan kisah-kisahmu membentuk puzzle yang utuh. Kukira menyelami duniamu adalah hal yang paling aku inginkan.

Sudah terlalu lama sejak terakhir aku jatuh cinta kepadamu.

Dan ketika kisah-kisahmu menjelma nyata, gadis yang dulu menghabiskan energinya untuk menyukaimu, kini sudah tidak ada.

Selasa, 17 Februari 2015

Old Feeling

Selasa, 17 Februari 2015
Dia sudah kehabisan cara untuk menunjukkan padamu kalau dia ada.

Tahu tidak, kamu beruntung. Ada seorang gadis yang cukup bodoh untuk terus menyukaimu, bertahun-tahun lamanya. Beberapa laki-laki berusaha keras untuk mendapat perhatiannya, tapi semua perhatiannya tertuju padamu tanpa kamu harus melakukan apa-apa.

Orang bilang, kamu tidak tahu apa yang kamu miliki sampai kamu kehilangannya. “Omong kosong, ” katanya. Dia tahu dia memiliki semua kenangan tentangmu, bahkan bertahun-tahun sebelum kamu pergi. Menyimpan senyummu, renyah tawamu, punggungmu yang bidang, dan percakapan-percakapan malam kalian. Dan saat ia merindukanmu terlalu dalam, dibukanya kembali kaleng kenangan itu.

Dia menyukaimu dengan berbagai cara. Merindukanmu dalam batas tak hingga.

Dia paham kenangan bukanlah manisan pala yang bisa diawetkan. Kenangan pudar. Otak manusia melupa. Banyak detil-detil sederhana yang menguap seiring waktu. Yang dia tidak paham, ada beberapa perasaan yang menetap, tidak memerlukan kenangan manapun untuk menuntunnya.

Seperti itulah dia tentangmu. Rindu, tapi tidak tahu apa yang dirindukan. Suka, tapi tidak tahu perasaan mana yang ia sedang perjuangkan. Mencintai sebuah ilusi, mungkin itu yang sedang ia lakukan.

Dia adalah gadis bodoh yang bertahan untuk menyukaimu.

Dan dia tidak berharap kamu membalas perasaannya. Dia hanya ingin kamu menyadari kalau dia ada. Sesederhana itu.


Nb: I found this in my old folder. Dated 16 Februari 2013. And means nothing for me now. But I post this, just so you know, that you once meant a lot for me.

Minggu, 01 Februari 2015

We are accidents waiting to happen

Minggu, 01 Februari 2015

"We are accidents waiting to happen."
Radiohead


Halo, Maret,
Sudah berapa dekade aku tidak menulis untukmu? Terakhir kali, aku sudah memutuskan untuk tidak menulis tentangmu lagi. Namun, bagaimana bisa? Menulis tentangmu selalu menyenangkan.

Ingat bagaimana aku bercerita tentang hidupku disini dan disini? Kalau aku terdengar sedih, percayalah, kisah masa itu tidak bisa dibandingkan dengan hidupku belakangan ini. Tahu rasanya menyerah? Ketika kamu sama sekali sudah tidak memiliki tujuan? Atau ketika sahabat-sahabatmu berkata 'semua akan baik-baik saja' dan kamu hanya tertawa sinis?

Tahu tidak, ketika semua hal dalam hidupmu berantakan, semua kata-kata motivasi itu tidak ada gunanya.

Aku ingin bercerita padamu, tapi aku sudah lelah bahkan sebelum membuka mulutku.

Dan aku tidak bisa bercerita padamu karena, hey, kamu terasa semakin nyata sekarang. Kamu layaknya orang yang pernah kukenal, seorang teman yang asing, bukan lagi hanya di kepalaku. Kamu bukan lagi my biggest crush in high school, orang yang bisa membuatku melompat-lompat hanya karena menyapaku, atau orang yang kukirimi surat-surat cinta dalam blog ini.

Aku tahu, bahkan dari awal aku mengenalmu, tidak akan ada cerita nyata tentang kita. Yang ada hanya kisah-kisah yang kurajut sendiri. Maka dari itu, ketika kamu menemukan seseorang, aku tidak begitu kaget. Aku sudah mempersiapkan masa-masa ini.

Namun, aku rindu. Aku rindu menulis tentangmu. Aku rindu diriku ketika menyukaimu.

Menyukaimu tidak pernah membuatku kesepian.

Dan sekarang, aku kesepian.

 
Tauk- Ah - Gelap © 2008. Design by Pocket