Cahaya yang kau berikan terlalu redup…Terlalu lemah untuk jadi pemanduku, aku tetap harus meraba-raba dalam gelap
Aku tidak memintamu untuk memberiku sinar mentari, ataupun lampu Shinyoku 10 watt
Aku hanya ingin sebatang lilin, yang bisa kugenggam erat saat ku takut, yang bisa kujadikan teman saat kesepian, yang cahayanya bisa melukiskan bayangan-bayangan pekat di tembok, yang meliuk-liuk gemulai, yang dengannya aku bisa berkisah tentang teman-teman sekolahku, tentang petuah-petuah ibuku, tentang nilai-nilai ujianku
Tentang mimpi-mimpiku dan ketakutanku
Tentang engkau …
Yang meskipun lelehannya akan menyiksa dan merajam tanganku, paling tidak aku tidak khawatir akan kehabisan lilin− aku bisa membuat lilin baru dari lelehan yang meluruh tubuhnya. Yang meskipun lilin baruku tampak sangat jelek, paling tidak, dia masih bisa menjadi tempat untuk menggantungkan sumbu, masih bisa menjadi tempat api-ku bersarang. Dia masih bisa memberiku cahaya…
Berilah aku lilin sayang, bukan korek. Korek yang kau berikan hanya mampu bertahan sebentar. Dia memercikkan api yang kecil, rapuh. Dan aku harus segera membuang korek itu bila tak ingin tanganku terbakar. Aku harus segera meniupnya, meskipun aku masih ingin melihat apinya menari-nari liar.
“Sebatang korek mengajarimu banyak hal”, katamu. “Kau harus menutupi korek itu dengan tanganmu, supaya hembusan angin tidak membunuhnya . Kau harus bergegas mencari kertas, atau lilin, atau benda apapun yang bisa menyalurkan api. Kau harus berpacu dengan waktu sebelum api itu meredup, lalu akhirnya mati. Dan meskipun kau bisa mempertahankan api itu, kau tetap harus mematikannya. Kau tentu tak mau api itu menjalari jari-jarimu bukan?”
Kau tahu? Aku bagaikan gadis panjual korek api yang kelaparan, dan engkau bagaikan tiga batang korek yang kupunya. Ketika aku menyalakan korek pertamaku, cahaya kecilnya memproyeksikan sebuah cheeseburger yang besar. Kejunya berkilat-kilat, mayonesenya menetes, dengan daging kecoklatan yang menggugah selera. Saat kucoba untuk merengkuhnya, cheeseburger itu menghilang. Rupanya apiku telah mati.
Kunyalakan korek keduaku. Bayangan segelas besar es krim coklat memancar darinya− es krim terbesar yang pernah kulihat, dengan topping hazelnut dan choco chips di atasnya. Aku mencoba mempertahankan apiku. Tetap saja, apiku mati. Sekeras apapun aku mencoba menghentikannya, api itu tetap akan mati. Es krim itu pun menghilang.
Tanpa kusadari, aku merasa lebih lapar daripada sebelumnya. Kini tinggal satu korek yang tersisa. Menurutmu, apa yang harus aku lakukan? Aku bisa menyalakan korek itu, mungkin nanti aku bisa mendapat bayangan seloyang pizza, atau berpiring-piring sandwich, atau bergunung-gunung daging asap, atau bahkan semuanya. Tapi tetap saja− itu semua hanya bayangan. Itu tidak akan menghilangkan rasa laparku.
Mungkin, aku bisa membuang jauh-jauh korek itu. Supaya aku tidak terus bermimpi mengenai cheeseburger ataupun es krim coklat. Atau tentang godaan-godaan lain yang ia tawarkan. Supaya aku tetap menjadi gadis penjual korek yang kelaparan, tapi paling tidak, aku tidak merasa lebih kelaparan dari ini.
Atau mungkin, aku harus kembali merayap di kegelapan, mengais-ngais, mencari sebuah lilin yang kau sembunyikan. Supaya aku bisa mempertemukan lilin itu dengan korekku, dimana mereka bisa menghasilkan sebuah cahaya yang menantang kegelapan :)















