Lilin dan Korek

Jumat, 06 November 2009

Cahaya yang kau berikan terlalu redup…
Terlalu lemah untuk jadi pemanduku, aku tetap harus meraba-raba dalam gelap

Aku tidak memintamu untuk memberiku sinar mentari, ataupun lampu Shinyoku 10 watt
Aku hanya ingin sebatang lilin, yang bisa kugenggam erat saat ku takut, yang bisa kujadikan teman saat kesepian, yang cahayanya bisa melukiskan bayangan-bayangan pekat di tembok, yang meliuk-liuk gemulai, yang dengannya aku bisa berkisah tentang teman-teman sekolahku, tentang petuah-petuah ibuku, tentang nilai-nilai ujianku

Tentang mimpi-mimpiku dan ketakutanku

Tentang engkau …


Yang meskipun lelehannya akan menyiksa dan merajam tanganku, paling tidak aku tidak khawatir akan kehabisan lilin− aku bisa membuat lilin baru dari lelehan yang meluruh tubuhnya. Yang meskipun lilin baruku tampak sangat jelek, paling tidak, dia masih bisa menjadi tempat untuk menggantungkan sumbu, masih bisa menjadi tempat api-ku bersarang. Dia masih bisa memberiku cahaya…



Berilah aku lilin sayang, bukan korek. Korek yang kau berikan hanya mampu bertahan sebentar. Dia memercikkan api yang kecil, rapuh. Dan aku harus segera membuang korek itu bila tak ingin tanganku terbakar. Aku harus segera meniupnya, meskipun aku masih ingin melihat apinya menari-nari liar.

“Sebatang korek mengajarimu banyak hal”, katamu. “Kau harus menutupi korek itu dengan tanganmu, supaya hembusan angin tidak membunuhnya . Kau harus bergegas mencari kertas, atau lilin, atau benda apapun yang bisa menyalurkan api. Kau harus berpacu dengan waktu sebelum api itu meredup, lalu akhirnya mati. Dan meskipun kau bisa mempertahankan api itu, kau tetap harus mematikannya. Kau tentu tak mau api itu menjalari jari-jarimu bukan?”



Kau tahu? Aku bagaikan gadis panjual korek api yang kelaparan, dan engkau bagaikan tiga batang korek yang kupunya. Ketika aku menyalakan korek pertamaku, cahaya kecilnya memproyeksikan sebuah cheeseburger yang besar. Kejunya berkilat-kilat, mayonesenya menetes, dengan daging kecoklatan yang menggugah selera. Saat kucoba untuk merengkuhnya, cheeseburger itu menghilang. Rupanya apiku telah mati.

Kunyalakan korek keduaku. Bayangan segelas besar es krim coklat memancar darinya− es krim terbesar yang pernah kulihat, dengan topping hazelnut dan choco chips di atasnya. Aku mencoba mempertahankan apiku. Tetap saja, apiku mati. Sekeras apapun aku mencoba menghentikannya, api itu tetap akan mati. Es krim itu pun menghilang.

Tanpa kusadari, aku merasa lebih lapar daripada sebelumnya. Kini tinggal satu korek yang tersisa. Menurutmu, apa yang harus aku lakukan? Aku bisa menyalakan korek itu, mungkin nanti aku bisa mendapat bayangan seloyang pizza, atau berpiring-piring sandwich, atau bergunung-gunung daging asap, atau bahkan semuanya. Tapi tetap saja− itu semua hanya bayangan. Itu tidak akan menghilangkan rasa laparku.

Mungkin, aku bisa membuang jauh-jauh korek itu. Supaya aku tidak terus bermimpi mengenai cheeseburger ataupun es krim coklat. Atau tentang godaan-godaan lain yang ia tawarkan. Supaya aku tetap menjadi gadis penjual korek yang kelaparan, tapi paling tidak, aku tidak merasa lebih kelaparan dari ini.


Atau mungkin, aku harus kembali merayap di kegelapan, mengais-ngais, mencari sebuah lilin yang kau sembunyikan. Supaya aku bisa mempertemukan lilin itu dengan korekku, dimana mereka bisa menghasilkan sebuah cahaya yang menantang kegelapan :)

Looneeey! Khakhakha!

Rabu, 09 September 2009

Seneeeeeeeeeeeng banget hari ini! Sumpah, gila, asik banget!
Hari ini ada buka bareng ma anak-anak LIA. Sayang banget, gak semuanya bisa ikut. Akhirnya yang ikut cuma aku, Jesika,Rrio, Nia, Uki, dan Redo. Pertama sih, kita semua (minus Redo- dia dateng telat) maen ke Game Fun. Disana, Jesi langsung maen Pump, Rio mencari jati diri (tau tu anak minggat kemana), dan Aku,Uki,ma Nia -yang menolak mentah-mentah ajakan Jesika untuk main Pump- memilih buat foto-foto.


Gentho dari Game Fun



Trus habis itu, Redo dateng. Hore hore hore! Awalnya sempet BT berat karena tadi pagi, Redo bilang kalo dia gak isa datang. Kalo dia gak dateng, otomatis acaranya gak jadi. Trus habis itu, kita main-main lagi. Aku sih, cuma ngikuti orang yang bawa koin banyak, biar bisa kecipratan main gratis…Nyeh nyeh nyeh


Tambah satu lagi genthonya


Maen bareng temen tu asik banget ya, mpe gak kerasa kalau udah buka. Si Rio dari tadi ngrecoki,”Ayo, buka sek yo…Beli minum sek…” Nah, berhubung anak-anak lagi asik main basket, pada nggak menggubris Rio. Akhirnya, dia ngajak Redo buat beli minum.Mereka berdua berjalan ke arah penukaran tiket di Game Fun, dimana di sebelahnya ada lemari es penuh softdrink dan teh botol

Rio,ngomong sama mbak-mbak Game Fun: Mbak, mau beli minum
Mbak Game Fun: Tiketnya ada mas??

WAKAKAKAKAKAKAKA. Dodol banget sih Rio. Itu softdrinknya kan buat ditukerin sama tiket,, bukan buat dijual! Emangnya warung??!! Wakakakaka.


Habis itu, kita main permainan yang mukul-mukul-tau tu namanya apa. Beneran tu game bikin emosi, buang-buang duit dan tenaga aja! (omongannya orang yang kalah 6x berturut-turut)

Pasrah udah kalah, mending foto-foto aja...


Karena urusan perut tak bisa diganggu gugat lagi, akhitnya kita putusin buat segera melancong ke warung lesehan favorit Rio. Dasar anak-anak gila kamera, di eskalator ma di tempat parkir juga masih sempet foto-foto!


Gentas Mamas!

Akhirnya nyampe juga di Kedai Tombo Ati, tempat makan lesehan, sebelah RRI. Menu favorit disini tu nasi goreng, banyak banget variasi nasi gorengnya! Sempet mau pesen Nasi Goreng Petai sih, tapi karena banyak protes dari berbagai pihak, akhirnya pesen nasi goreng babat. Eh, malah Redo lupa mesenin pesenanku coba! Jadi pas anak-anak pada makan, aku masih diem, manyun, nungguin nasi goreng babat yang gak kunjung dateng.

Tapi waktu diem gitu, duduk, lesehan, dengan perut keroncongan, aku jadi bisa merenung. Ternyata Semarang di waktu malam tu indah banget ya?? Angin malam yang menusuk, cahaya lampu kerlap-kerlip, mobil yang lalu lalang, bahkan suara tawa penjual nasi goreng saja bikin malam itu lebih indah. Diambah lagi, ada pengamen yang pake biola. Uuuh, romantis banget!!! Aku ma Jesika mpe terpukau! Plok,plok,plok!

Duh, capek ngetik. Padahal masih banyaaaaaaak banget.yang pengen aku certain. Dialog-dialog abrurd kita, yang entah tadi itu ngomongin apa, yang jelas bisa bikin kita ketawa mpe njengking-njengking; Redo yang sok-sok mau masuk Family Fun- tempat karaoke keluarga; Rio ma Redo yang akting lagi ujian SIM, dengan cara muteri pembatas parkiran di DP; waktu foto-foto di escalator… There’s a lot of things that can make me laugh out loud tonight! Banyak hal -banyak banget- yang bisa membuatku lebih bersyukur. Hal-hal sepele yang biasa terlewat setiap hari, berasa lebih punya arti. Ketika kau bersama temanmu, hal-hal kecil pun bisa berarti banyak.

Aduh, aku kok jadi sentimental gini sih! Lebaay deh. Mungkin karena udah selesai promotion test di LIA, jadi beban hidup rasanya udah ilang. Mungkin juga gara-gara habis makan nasi goreng super pedas, bikin otak jadi kacau. Or maybe it might be the last chance for us to hang out together. Kita semua udah kelas tiga, habis ini mesti pada sibuk persiapan UAN, persiapan masuk perguruan tinggi…Wah guys, habis ini kita akan menapaki jalan hidup masing-masing ya?? I’m gonna miss you a lot guys, miss our silly conversation, miss our crazy teacher, miss the time when we laugh out loud, even miss the time when we argue,,, (yes, we argue a lot)

Today,Sept 9th,2009. Or 09/09/09. Triple lucky number.
And I’ve found my treasure tonight.



NB: iye, ini emang postingan gak penting... di-skip aja...

Kimia oh Kimia..

Rabu, 02 September 2009


Percakapan bodoh di lab kimia…


Arin: “Vita pegang yang kabel merah, Anes pegang yang kabel item. Ntar masukin ke larutan KI-nya bareng-bareng ya…Satu, Dua,, Tiga! Masukin sekarang”

Aku ma Anes: ( masukin katoda dan anoda ke dalam air)

Arin: “Lo nes, kok warna airmu jadi kuning?”

Aku: (berpikir: lo,itu bukan karena reaksinya to?)

Siska: “Waah, berkarat mungkin.”

Aku: (berpikir:hah, masa berkarat?)

Siska: “Hi, cuma kelompok kita thok yang kuning yo…Kelompok yang lain masih bening…”

Aku: (melihat berkeliling) “Iya ik! Punya kita thok yang kuning!”

Arin: “Coba tanya bapaknya.”

Aku: “Faktor yang masukin tu… Tangannya Anes jelek sih,makanya jadi kuning…”

Anes: (menatapku dengan pandangan super duper melas)

Siska: “Nggak yoo,itu tu gara-gara besinya berkarat…Liat ni.”

Arin: “Coba tanya bapaknya.”

Aku: (mengacungkan tangan dengan penuh percaya diri) “Pak, ini kok larutannya warnanya jadi kuning ya pak?? Besinya berkarat tu pak…

Pak Romadi: “Ya itu memang reaksinya begitu…”

Aku: …………

Arin: “Oh”

Siska: “Oh”

Aku: “Oh…”

Anes: “Tuh kan, jadi bukan gara-gara tanganku…”



LOL LOL LOL

(NB: percakapan di atas sudah ditranslate dengan bahasa Indonesia yang baik dan benar)

5cm

Sabtu, 29 Agustus 2009




Hari Jumat kemarin aku habis baca novel 5 cm.

Pertama-tama, ceritanya biasa saja sih, kurang greget. Dan juga, gaya penceritaannya kurang ‘matang’. Kadang kita susah menangkap apa yang dimaksudkan si pengarangnya. Ada beberapa jokes yang aslinya tuh lucu banget, kalau memang bener-bener dicerna, sayangnya aku males,hehe... Tapi setelah makin kebelakang, makin kebelakang, kok keren ya?? Ada banyaak banget pesan yang disampaikan buku ini; tentang mencintai ibu pertiwi ini, tentang jangan pernah menyerah dalam meraih cita-citamu, apa pun hambatannya. Banyak juga percakapan-percakapan cerdas yang terjadi antar tokoh.Hal yang aku suka dari buku ini, adalah sisipan kata-kata mutiara dan beberapa (banyak ding!) lirik lagu. Baca buku ini bikin aku berfikir,”Damn,this is really really me!” Jokes-jokesnya yang aneh, tapi kadang bikin ngakak-ngakak; lirik lagunya; sisipan quotes di setiap cerita; gue banget!

Ini quotes yang paling aku suka


“…Setiap kamu punya mimpi atau keinginan atau cita-cita, kamu taruh di sini, di depan kening kamu…jangan menempel. Biarkan…”
“Dia…
“Menggantung…”
“Mengambang…”
“5 centimeter…di depan kening kamu…”
“Jadi dia nggak akan pernah lepas dari mata kamu. Dan kamu bawa mimpi dan keyakinan kamu itu setiap hari, dan percaya bahwa kamu bisa. Apa pun hambatannya, bilang sama diri kamu sendiri, kalo kamu percaya sama keinginan itu dan kamu nggak bisa menyerah. Bahwa kamu akan berdiri lagi setiap kamu jatuh, bahwa kamu akan mengejarnya sampai dapat, apa pun itu, segala kenginan, mimpi, cita-cita, keyakinan diri…”
“…Biarkan keyakinan kamu, 5 centimeter menggantung, mengambang di depan kening kamu. Dan…sehabis itu yang kamu perlu cuma…”
“Cuma kaki yang akan berjalan lebih jauh dari biasanya, tangan yang akan berbuat lebih banyak dari biasanya, mata yang akan menatap lebih lama dari biasanya, leher yang akan lebih sering melihat ke atas.”
“Lapiskan tekad yang seribu kali lebih keras dari baja…”
“Dan hati yang akan bekerja lebih keras dari biasanya…”
“Serta mulut yang akan selalu berdoa…”
“Dan kamu akan selalu dikenang sebagai seorang yang masih punya mimpi atau keinginan, bukan cuma seonggok daging yang hanya punya nama. Kamu akan dikenang sebagai seorang yang percaya pada kekuatan mimpi dan mengejarnya, bukan seorang pemimpi saja, bukan orang biasa-biasa saja tanpa tujuan, mengikuti arus dan kalah oleh keadaan. Tapi seorang yang selalu percaya akan keajaiban mimpi, keajaiban cita-cita, dan keajaiban keyakinan manusia yang tak terkalkulasikan dengan angka berapapun…Dan kamu nggak perlu bukti apakah mimpi-mimpi itu akan terwujud nantinya karena kamu hanya harus mempercayainya.”
“Percaya pada…5 centimeter di depan kening kamu.”



(bagian yang “….bukan orang biasa-biasa saja tanpa tujuan, mengikuti arus dan kalah oleh keadaan.” Gosh, bener-bener nyindir aku TT...)

Tragedi Smaga

Kamis, 27 Agustus 2009

Hmm, percaya gak sih, sama kesialan yang beruntun??
Percaya gak percaya, minumnya Teh Botol Sosro… *LHO??*
Maksudku, percaya aja deh, ma peristiwa yang terjadi di Smaga ini. Dijamin, cerita ini tanpa rekayasa. Bila ada kemiripan nama tokoh, hal itu merupakan hal yang tidak disengaja. *JENG JENG JENG*

Kamis,13 Agustus 2009
Ada salah satu anak Smaga, kelas 12,cewek, yang kesandung sampai pelipisnya berdarah-darah. Waktu itu aku lagi duduk-duduk di undakan depan Bahasa Indonesia 3, ada beberapa anak cowok lagi mapah cewek. Aku kira sih,tu cewek mau dikerjani. Aku ketawa kecil, tapi pas nengok ke belakang,,BUJUGBUSET! Tuh lantai penuh darah yang tercerer-cecer! Bener-bener mirip salah satu adegan di film detektif. Apalagi gayanya Ifa yang sok menelusuri jejak-jejak darah… Berasa syuting Conan,Fa??



darah!!!



Sabtu,15 Agustus 2009

Yang kali ini lebih parah. Ada anak kelas 10 yang jatuh dari lantai 2 waktu lagi lomba Ganesha Adventure. Katanya sih dia mpe patah tulang segala. Hmm, hope he’ll get well soon…

Minggu,17 Agustus 2009
Upacara 17 Agustus di sekolah, tali benderanya putus! Pertanda apakah ini,,mengerikan sekali… Apakah anda memperhatikan, semua kejadian ini berjarak masing-masing 2 hari?? Apakah ini sebuah kutukan dari hantu toilet,,karena anak-anak Smaga mengguyur WC kurang bersih??? TIDAAKK!!! (kelebihan makan Chocholatos jadinya begini deh…)

Aku,Ucik,ma Gista mpe berunding,”Aduh,kok kejadiannya berpola gini ya.. Besok tanggal 19 kejadian apa lagi ya? Naudzubillah…

Rabu,19 Agustus 2009
Yep, jangan pernah berfikir kalau kemalangan tidak akan menimpamu. Kali ini korbannya saya sodara-sodara… SAYA. Pagi ini saya menjatuhkan sekitar 5-7 motor di parkiran. YUPZ! Lima sampai tujuh motor! Betapa naifnya saya, kalau berfikir saya tidak akan kenapa-napa, kalau saya akan menjalani hidup tenang selamanya, kalau marabahaya tidak akan mendatangi saya…

Tadi pagi kan aku mau parkir di depan ruang seni… Nah,waktu aku sedang memundurkan motorku, GAK SENGAJA bagian depan motorku nyenggol motornya bapak penjaga sekolah. Ya Allah,nyenggol dikit doang,suer! Tapi tiba-tiba, NGIUUNG, BRUUK. Motornya jatuh. Aku yang saat itu posisinya lagi ada di atas motor, cuma melongo. Well, aku kira masalah udah selesai. Tiba-tiba lagi, NGIUUNG, BRUUK. Motor sebelahnya ikut jatuh dengan anggun. Oke,panik mode on. Aku melihat sekeliling, memohon bantuan. Tapi disekelilingku cuma ada adik kelas cewek, yang sama-sama bengongnya kayak aku. Tiba-tiba lagi, NGIUUNG,BRUUK,BRUUK,BRUUK. Dua atau tiga motor jatuh karambol. Panik stadium 4. Aku benar-benar speechless, dan melihat adiknya dengan tatapan super-duper-melas, memohon pertolongan. Tapi adiknya cuma berdiri, gak melakukan apapun! Dan, mataku menatap motor yang akan tumbang lagi. Panik stadium 9. Aku antara ingin mencegah motor itu biar gak jatuh atau mempertahankan posisi motorku-yang-sedang-aku-naiki-yang-juga-lagi-oleng. Dan yang paling mengherankan, adik-kelas-cewek-tak punya jiwa sosial itu cuma berdiri saja, gak nolongin sama sekali! Padahal dia sedang berada pada posisi bebas, gak lagi terjebak di atas motor kayak aku! Rasanya kaya pengen marah,mengumpat,nangis,dan juga ketawa. Aslinya kejadian itu lucu banget,sumpah, ASAL BUKAN AKU YANG NGALAMI.

Dan akhirnya motor itu tumbang juga, dengan membawa motor di sebelahnya tumbang bersama. Aku yang akhirnya sadar dari trans-ku, akhirnya langsung memarkir motorku asal-asalan, naruh helm, lalu lari menuju motor yang aku jatuhin tadi, dan mengangkatinya satu persatu, TANPA ADA YANG MBANTUIN! $*^%@!

Kemana perginya adik-kelas-nyebeli itu? Dia ilang,melanglang buana, gak mencoba sedikitpun buat mbantuin. Fuck

O,ya. Buat kamu yang hari itu parkir di pinggir lapangan basket depan ruang kesenian, yang merasa motornya rada-rada lecet, AKU-SANGAT-MENYESAL. Sungguh kawan, ini merupakan ketidaksengajaan. Dan buat pemilik motor biru berspion putih, maaf banget aku udak matahin spionmu,huhu… Kalau perlu, aku ganti deh. Tapi jangan yang mahal-mahal ya,, aku gak punya duit…
Waktu istirahat aku udah ngecek motor-berspion-patah, tapi kok motornya gak ada ya?? Jangan-jangan itu cuma mimpi? *ngareep*



TKP


Seperti yang telah saya sampaikan di atas, jangan pernah berfikir kalau kemalangan tidak akan menimpamu .Ingat kawan, bahaya selalu mengintaimu, dimana kamu berada. Bisa aja kamu jatuh saat kesandung tali sepatumu sendiri. Atau tas-mu menyenggol salah satu motor di perkiran dan membuat tujuh motor lainnya ikut terjatuh. Atau mungkin, ada temenmu yang dendam, lalu melempar kamu dari lantai dua (Oke,sepertinya aku harus stop makan Chocolatos)


Segitu dulu deh. Sekali lagi, aku bener-bener minta maaf sama pemilik motor-motor yang gak sengaja aku jatuhin… Luckily, setelah tragedi motor, kayaknya gak ada peristiwa-peristiwa aneh lagi. Let’s hope for the best