Senin, 01 Agustus 2016

Prelude Terakhir

Senin, 01 Agustus 2016

Hei.
Aku melihatmu lagi.
Kau tampak seperti biasanya; berjalan tanpa semangat dengan mata sayu.
Tidak jauh berbeda saat aku melihatmu di kelas setelah obrolan kita di telepon semalaman.
Kau pasti lelah.
Sudah lama sejak kau mendatangiku dengan wajah mengantuk mengeluh kurang tidur.
Atau aku menutupi ketidakhadiranmu saat kau terlalu lelah untuk masuk kelas.
Sudah lama sejak kau sedikit banyak bergantung padaku dan aku menyukaimu karena itu.
Hidupmu dan aku sudah banyak berubah bukan?
Aku bukan lagi tempatmu berkeluh kesah dan kau bukan lagi pusat semestaku.
Melihatmu sekali dua kali ketika menyusuri jalan menuju kantorku rasanya seperti diingatkan dengan sesuatu yang jauh.
Seperti melihat sekolah lamamu setelah bertahun-tahun tidak melewatinya,
berpikir, "Ah, aku pernah mencintainya," tapi tak lagi membuatku berkubang pada kenangan usang.

Sebentar lagi aku meninggalkan kotamu.
Menutup fase kehidupanku disini dan memulai di tempat baru.
Tak akan lagi kulihat sosokmu, berjalan dengan wajah lelah karena kurang tidur.
Kamu yang semangat, ya?
Kalau saja aku bisa memberimu ribuan ucapan penyemangat seperti dulu.
Kalau saja kalimat penyemangatku masih berarti untukmu.

Hei.
Sudah lima tahun berlalu, prelude ini masih saja tercipta.
Kalau kau tak pernah berarti untukku, lalu apa?
Darimu, aku belajar untuk benar-benar mencintai seseorang dan darimu, aku belajar untuk benar-benar merelakannya.
Kurasa, setelah ini, tak ada lagi campur tangan Tuhan, kebetulan-kebetulan menyenangkan yang terangkai dalam manuskrip khayalku.
Pertemuan-pertemuan kecil yang menyadarkanku seberapa jauh aku melangkah.
Kini, kututup segala kisah tentangmu dalam prelude terakhirku.
Selamat tinggal?
Ini perpisahan.


Jakarta, 28 Juli 2016

Sabtu, 25 Juni 2016

Membuang Perasaan

Sabtu, 25 Juni 2016




“Vit, kalau kamu nemu bangkai tikus di bak mandi, kamu apain?”

Saya mengernyit, bertanya-tanya mengapa teman saya tiba-tiba berbicara tentang bangkai tikus.

“Kubuang, lalu kukuras bak mandinya. Kenapa?”

“Tapi, ada cara lain,” teman saya berbicara lamat-lamat. “Kamu bisa mengisi bak mandi itu dengan air, terus menerus, sampai meluap. Sampai bangkai tikus itu keluar.”

Saya terdiam, berusaha mencerna apa yang teman saya baru saja katakan. Namun, teman saya sudah lebih dulu menjelaskan.

“Alih-alih kamu berusaha keras melupakan seseorang, kenapa nggak kamu biarkan saja? Biar saja kamu terus menyukai dia, sampai meluap-luap. Sampai rasanya kamu tidak tahan lagi.”

“Menyukai dia sampai rasanya muak?”

“Iya.”



Jakarta, 25 Juni 2016, tiba-tiba teringat nasihat teman tentang membuang perasaan. 


Rabu, 30 Maret 2016

Hal-hal yang Tidak Akan Pernah Kukatakan Padamu [2]

Rabu, 30 Maret 2016



Yang kuinginkan darimu adalah kamu bisa mengenal diriku yang sesungguhnya.

Bagaimana aku tertawa seperti orang sesak nafas atau cara berjalanku yang tomboy dan sama sekali tidak elegan. Atau bagaimana aku berubah dari orang paling pendiam di ruangan menjadi seseorang yang cerewetnya bukan main.

Aku ingin kamu tahu bagaimana tidak menariknya diriku saat bersin atau betapa seringnya aku menahan muntah saat berada di mobil. Juga pemikiran-pemikiran liarku yang pasti membuatmu bertanya-tanya apakah ini gadis yang pernah kamu sukai atau bukan.

Jadi, jika kamu menyukaiku, itu karena diriku yang sesungguhnya, dan jika kamu tidak menyukaiku, itu pun karena diriku yang sesungguhnya.

Namun, bagaimana kamu bisa mengenal lapisan-lapisan dalam diriku jika setiap kamu berada di dekatku, lidahku menjadi kelu? Aku tidak bisa bergerak seperti yang aku mau, aku tidak bisa berpikir seperti yang aku mau. Aku hanya duduk di seberangmu, mencoba menyimpan momen tersebut, suara musik bercampur bising percakapan yang sambil lalu di telinga kita, warna bajumu, juga matamu. Mencoba mengingat irama jantungku saat berhadapan denganmu dan memainkannya kembali saat ketidakhadiranmu terasa nyata.

Bagaimana kamu bisa melihat diriku jika jantungku terus menerus meracau rindu? Rasanya begitu sesak sampai membuatku takut, berharap kita menyudahi pertemuan itu dan aku kembali ke persembunyianku dan mereka-reka percakapan yang seharusnya terjadi.

Karena dalam anganku, aku tidak setakberdaya ini. Aku bisa menguasai diriku, tahu apa-apa saja yang akan kukatakan padamu. Hatiku ringan dan dadaku tak bergemuruh. Kau bisa melihatku, diriku, baik burukku, dan memutuskan untuk kembali menyukaiku atau tidak. Dan kita berdua tidak akan menyesali puluhan momen yang terlewat, terjebak dalam pusaran kenangan.

Lalu, berapa kali aku harus membunuh perasaanku agar kamu mampu melihatku?

Minggu, 13 Maret 2016

The Abundance of Choices

Minggu, 13 Maret 2016



Apa yang kau lakukan dengan hidupmu? Apa yang kau inginkan?
Apa kau bahagia?

Semakin dewasa, saya semakin kesulitan menjawab pertanyaan sederhana tersebut. Beberapa tahun belakangan ini, saya merasa tidak tahu apa yang saya cari. Atau apa yang benar-benar membuat saya bahagia. Kadang saya merasa ketakutan dengan keputusan besar yang saya ambil, apakah saya berjalan ke arah yang benar atau tidak. Tentu, ini bukan pilihan seperti manakah perjalanan yang dipilih, berlayar ke samudra Hindia dan kamu bisa singgah di Pulau Paskah, atau berkelana melewati Jalur Sutra supaya kamu bisa membeli karpet Persia. Tapi seringkali, beberapa pilihan terasa sebesar itu.

Jika saya memutuskan untuk menaiki kapal dan menuju Pulau Paskah, tentu akan sulit bagi saya untuk berbalik arah dan menuju Persia. Dan pertanyaan lain yang tidak kalah pentingnya, apa yang menjamin saya lebih bahagia di Pulau Paskah dibandingkan Persia − atau sebaliknya?

Salah satu sifat saya yang saya benci adalah rasa tidak pernah puas. To be fully content. And it result in emptiness and unhappiness. Sahabat saya bertanya apa yang saya inginkan dan saya tidak benar-benar yakin. Saya menjabarkan pilihan saya, kemampuan saya, dan dia berkata dengan wajah prihatin, “Kamu punya terlalu banyak pilihan, Al.” Dia mengatakan hal tersebut seolah saya baru saja divonis memiliki sebuah penyakit kulit mematikan. Saya tidak paham. Dari dulu, saya berpikir bahwa semakin banyak pilihan yang kita punya, semakin bagus. Mampu menguasai banyak hal, mampu menjadi apa saja adalah hal yang saya inginkan sejak kecil. Bayangkan betapa hebatnya Leonardo da Vinci dan apa saja yang bisa ia lakukan.

Kemudian, malam ini, ketika lagi-lagi saya menemukan diri saya di tengah-tengah pengambilan sebuah keputusan penting, saya menemukan sebuah video dari Barry Schwartz tentang The Paradox of Choice, which makes me understand why I still feel unhappy even within all the choice I got.



Barry Schwartz explain how too many choices often leads to disappointment, even regrets. He said, “The more options there are, the easier it is to regret anything at all that is disappointing about the option that you chose."

Saya mengerti apa yang dia maksud. Ketakutan terbesar saya adalah apakah saya akan menyesali keputusan yang saya ambil atau yang tidak saya ambil. Bagaimana bisa kita tahu keputusan mana yang lebih baik untuk kita? We can’t. Bahkan dengan konsep peramalan di ilmu statistika yang saya pelajari pun kita tidak bisa tahu.

Schwartz bercerita tentang pengalamannya membeli sebuah celana jeans dan bagaimana banyak pilihan akan celana jenas berdampak pada Schwartz.

“I choose the best fitting jeans I have ever had, but I felt worse. The reason is, with all these options available, my expectations about how good a pair of jeans should be, went up. I had no particular expectations when it comes in one flavor. When it comes in one hundred flavor, then damn it, one of them should’ve been perfect. What I got was good, but it wasn’t perfect. So I compare what I got to what I expected. Adding options to people's lives can't help but increase the expectations people have about how good those options will be. And what that's going to produce is less satisfaction with results, even when they're good results.


Barry Schwartz elaborated, back in his days, when people got limited choices, they seem to be more happy than people nowadays. Kemajuan teknologi, berdampak pada banyaknya pilihan yang tersedia di pasar, berdampak pada munculnya generasi yang tidak pernah puas. Contoh paling simpel; ponsel. Dulu saya bahagia dengan ponsel Sony Ericsson tua saya yang bisa merekam soundtrack anime favorit saya di tv dalam durasi 10 detik. Sekarang, saya melihat orang-orang di sekitar saya, selalu mengeluh dengan ponsel smartphone mereka yang bahkan belum berumur setahun karena ada model-model baru yang lebih sophisticated. Selalu ada perasaan bahwa kita bisa mendapatkan yang lebih baik dan itu membuat kita tidak pernah merasa cukup.

Yep, Imagine Dragons said it right; No matter what we breed, we still are made of greed.

Saya pikir hal-hal tersebut banyak terjadi di umur 20-something seperti saya ini, karena masa depan orang berumur 20-an masih begitu luas. Masih terlalu banyak mimpi. Dan itu berkurang saat orang berumur 30 atau 40-an. Barangkali, saat orang sudah di umur matang, sudah terlihat mana path yang akan mereka ambil. Ibaratnya, sudah dua negara lagi menuju Persia, akan menjadi perjalanan yang melelahkan jika harus kembali ke Pulau Paskah.

Schwartz memberikan contoh yang menarik dengan ilustrasi ikan di dalam fishbowl. Analogikan saja bahwa kita adalah ikan dan fishbowl tersebut adalah limit pandangan kita akan dunia luar. Ikan tersebut mengatakan pada temannya bahwa; you can be anything you want to be - no limits, yang membuat beberapa audience tertawa. Apa sih yang bisa ikan itu lakukan dalam akuarium sekecil itu? Tapi, hey, bisa jadi ikan itu benar, kan? Mungkin kita berpikir bahwa memecahkan fishbowl membuat ikan tersebut memiliki dunia yang lebih luas daripada sekotak tempat tinggal mereka, tapi realitanya justru membuat ikan tersebut klepek-klepek karena kekurangan air.

"Because the truth of the matter is that if you shatter the fishbowl so that everything is possible, you don't have freedom. You have paralysis. If you shatter this fishbowl so that everything is possible, you decrease satisfaction. You increase paralysis, and you decrease satisfaction."

Benar kata teman saya. Kebebasan itu utopis.

Dan sekarang, saya berusaha membuat fishbowl dalam kehidupan saya – membentuk garis limit. Benar-benar berkebalikan dengan apa yang saya yakini selama ini, that everything is possible. Yep, everything is possible, but you can’t do everything, right? Dulu saya punya mimpi besar. Bahwa saya akan menjadi ‘seseorang’. Saya akan mengubah negara ini. Saya ingin memberikan kotribusi signifikan bagi masyarakat dan sains.

But, here I am, unable to take choice. Zero.

Saya pernah berkeinginan menjadi aktuaris, punya duit banyak, kaya raya, beli perkebunan dan memberdayakan petani setempat. Namun, setelah terjun di dunia aktuaria, I know it is one hell of choices. Saya tahu dosen Akuntansi saya tidak main-main ketika mengatakan, “Jika kalian ingin menjadi aktuaris, kalian harus punya mimpi besar. It took a big effort to get in and it took a bigger effort to get out.”

Saya tidak berada dalam posisi untuk mengeluh, tapi saya merasa mimpi besar itu membunuh saya. Those variety of choices makes me paralysis, unable to move. I’m not 100% being hiperbolic because the truth is my feeling goes numb day by day − and as much as I wish to be in my old days, I know it is not a good sign.

 If I know what the price to pursue those dreams, then hell with being somebody. Hell with changing the world. I just want to be happy.

Dan lagi-lagi, saya ingin mengutip kata-kata Schwartz yang barangkali menjadi guidance saya sejak malam ini.

“Everybody needs a fishbowl. This one is almost certainly too limited - perhaps even for the fish, certainly for us. But the absence of some metaphorical fishbowl is a recipe for misery, and, I suspect, disaster.”

Sabtu, 28 November 2015

Mengagumi diam-diam

Sabtu, 28 November 2015





Kagum. Mungkin, itu yang terlinas di benak setiap orang ketika pertama mengenalnya −termasuk aku. Dia seperti ensiklopedia berjalan. Tidak. Ia seperti perpustakaan penuh ensiklopedia yang berjalan. Sungguh, pengetahuannya, tentang ilmu pasti, sosial, sejarah, sampai musik membuat siapa saja berdecak.

Dia sangat populer. Saat aku bertemu seseorang di sebuah acara di Jogja, orang itu berkata hampir semua orang di kampusnya mengenalnya. Barangkali, ia seperti magnet yang menarik orang-orang dari berbagai jurusan. Tentu saja. Cara dia mengemukakan ide-idenya. Bagaimana matanya berkilat setiap ia bicara tentang ilmu pengetahuan. Nada penuh antusias dalam suaranya ketika ia menanyakan hal-hal yang membuatnya penasaran seperti sintaks program atau takdir manusia.

Aku sudah mengenalnya sejak lama meski tak benar-benar mengenalnya. Baru akhir-akhir ini aku tahu sedikit banyak tentang dirinya. Tentang hal-hal seperti mimpi dan masa depan yang disinggung sekilas dalam obrolan kecil kami. Dan, setelah aku lebih mengenalnya, ada masa-masa dimana aku perlu menenangkan jantungku dan berkata, ‘Jangan goyah. Jangan goyah.’

Lucu. Kapan terakhir kali aku membisiki hatiku agar tidak jatuh cinta pada seseorang? Rasanya sudah lama sejak waktu itu.

Ah, Maret. Sepertinya kau punya saingan.

Kamis, 26 November 2015

Milo [1]

Kamis, 26 November 2015

Prolog




‘Markas’ kami berada di lingkungan sepi di pusat pecinan. Sebagian besar rumah tertutup dengan pagar-pagar besi tinggi yang berkarat disana-sini. Satu blok di belakang ‘markas’ kami, terdapat taman luas yang dipenuhi ilalang kering. Sebuah ayunan yang menimbulkan bunyi berdecit saat digunakan terpancang di salah satu sisi taman. Pada sisi taman yang lain, di atas sepetak tanah hitam tanpa rumput, yang menurutku adalah hasil pembakaran ilalang yang disengaja, Milo menghabiskan sebagian besar waktu sorenya. Ia duduk beralaskan sandal bututnya yang alas bagian depannya sudah menganga, seperti mulut buaya yang mencari mangsa. Dia hampir selalu membawa buku catatannya yang penuh dengan selipan kertas-kertas dan menekurinya, seolah buku tersebut mencantumkan jawaban atas terciptanya semesta. Dia baru sadar matahari sudah bergulir ketika surau di seberang taman menyuarakan adzan. Berdirilah dia, menepuk-nepuk celananya yang penuh tanah lantas memakai sandal yang ujungnya sudah menganga, menuju surau.

Kadang aku mengikutinya beribadah meski aku bukan orang yang banyak percaya akan kekuatan doa. Namun, aku suka melihat orang-orang disana melinting lengan baju dan celana mereka, lalu membasahi tubuh mereka dengan air wudhu. Mereka menggelar sajadah di atas karpet surau yang sudah kumal dan bau apak, lantas bersila di atas sajadah mereka. Sebagian dari mereka berkomat-kamit, tapi Milo tidak termasuk orang-orang itu. Ia hanya duduk tenang di atas sajadahnya, memandang ruang kosong di hadapannya, entah memikirkan apa. Kadang, aku ingin menyelami pikirannya, mengetahui sedikit tentang dunianya. 

‘Apa yang kamu pikirkan, Milo? Apa mimpimu?

‘Apa ketakutan terbesarmu?’
***


Jadi,

Saya menemukan satu naskah yang saya tulis setahun silam. Kisah ini, bagi saya... tidak biasa. Bukan cerita cinta yang manis seperti yang saya tulis sebelumnya, malah memang tidak dimaksudkan untuk menjadi cerita cinta. Untuk kisah ini, saya memiliki suatu potongan-potongan di kepala, visualisasi yang menyerupai adegan-adegan dalam film. Nah, disanalah saya mengalami kesulitan. Menulis novel dan naskah film jelas dua hal yang sangat berbeda. Lagipula, Milo ini karakter yang cukup berbeda dari karakter-karakter yang pernah saya tulis. Dia hidup di dunia abu-abu. Saya ingin membuat orang yang membaca tentangnya merasa sebal, marah, tapi juga bersimpati. Bagaimana caranya membuat pembaca membenci karakter yang kamu ciptakan tapi juga bersimpati? Haha. Disinilah keseruan dalam menulis.

Namun, saya tidak tahu apakah saya bisa menyelesaikan kisah ini. So many ideas, so little time. Doakan saja, siapapun yang membaca ini, agar saya segera bisa menyelesaikan cerita ini dengan penceritaan yang sebaik-baiknya.

Regards,
Vita

Jumat, 13 November 2015

Tentang Perantauan

Jumat, 13 November 2015






Jumat, 13 November 2015, selepas hujan.


Saya tidak menyangka sudah delapan bulan saya tinggal di Jakarta (benar-benar tinggal, bukan perjalanan pulang pergi Jakarta-Semarang) dan saya merasa baik-baik saja. Tentu, tidak selalu baik, tapi yang jelas jauh lebih baik dari kali pertama saya menginjakkan kaki di kota metropolitan ini.

Jakarta adalah satu dari beberapa kota perantauan saya. Tidak, tulisan ini tidak akan bercerita panjang lebar tentang kesan saya mengenai Jakarta, tapi, disini, saya dipertemukan dengan orang-orang yang membuat saya merasa bersyukur. Sulit bagi saya untuk berteman dengan orang baru, tapi, nyatanya, saya punya sahabat baru yang membuat kami berbincang sampai pukul dua pagi (padahal besoknya masuk kantor) dan baru berakhir setelah kami memasang headset agar kami berhenti berbicara. Saya juga bertemu seorang teman lama dan kami bersama teman-temannya (yang juga menjadi teman baru saya) sering menikmati malam dengan hal-hal yang menyenangkan.

Hal-hal yang menyenangkan disini salah satunya memesan coffee latte, mendengarkan live music, dimana orang-orang ikut menyanyikan lagu dan bertepuk tangan. Dan, di sela-sela lagu, kami berbincang tentang sains, mimpi, dan kehidupan.

Oh, I’m feeling so alive.

Saya juga bertemu seseorang yang secara tidak langsung mengajarkan bahwa seorang wanita harus kuat.
Tahun ini memang memberikan banyak arti pada diri saya. Setelah tahun kemarin yang begitu banyak struggle, air mata, dan hal-hal depresif, tahun ini saya ditempa untuk tidak menye-menye. Bahwa masalah itu selalu ada, dimana pun kita, tapi intinya bukan terletak pada masalah itu, melainkan bagaimana kita menghadapinya. Terdengar klise, mungkin. Saya sendiri kadang beranggapan hal tersebut adalah bullshit. But as Murakami said, pain is inevitable, suffering is optional and to this day, it is the truest thing I ever heard.

Yang jelas, melihat perjalanan saya dua tahun ini, saya ingin mengatakan bahwa saya bangga dengan diri saya. Ketika semasa kuliah hal-hal yang membuat bangga adalah menjuarai kompetisi atau memiliki karya, kali ini, saya bangga bisa melalui masa-masa sulit dalam hidup saya dan masih bisa menikmati hidup.

Tahun depan, saya ingin merantau lagi. Entah keluar Jakarta, atau keluar Indonesia. Ah, ya, saya masih punya mimpi untuk S2 di Inggris. Juga mimpi memiliki perkebunan kopi/ teh di Ciwidey, Bandung atau Wonosobo. Yang jelas, merantau membuat pandangan-pandangan saya tentang hidup berubah. Saya menjadi lebih mandiri, lebih berani, lebih bisa bersikap, juga lebih bisa memasrahkan segala sesuatu kepada Allah. Yang terakhir, itu, adalah hal yang benar-benar saya baru pelajari setelah dua tahun ini.

Omong-omong, saya menulis ini karena sebentar lagi saya ulang tahun, dan berdasarkan statistik beberapa tahun terakhir, setiap bulan ulang tahun saya merasa sedih. Karena itu, saya harap, manakala saya merasa down, saya bisa membaca tulisan ini dan merenung (Woi, Vita di masa depan, baca!)

Omong-omong lagi, hari ini bapak saya ulang tahun.

 
Tauk- Ah - Gelap © 2008. Design by Pocket