Jumat, 06 April 2012

entah-mau-dikasih-judul-apa

Jumat, 06 April 2012
 

Selamat malam duniaa! *sibak tirai*

Di malam yang menggalaukan ini, saya iseng-iseng buka blog yang sudah lama ditinggalkan. Eh, ada beberapa yang komen! Ya ampun, saya terharu. Ternyata masih ada yang sudi mampir meskipun blog ini sudah beberapa abad gak keurus :’)

Liat tanggal terakhir kali saya posting, ternyata memang sudah lama banget ya, blog ini terlantar. Haah… *ambil Baygon*  *semprot kecoak di pojokan*

Eniwei, sebentar lagi sahabat saya, Haunina ulang tahun. Saya berencana mau ngasih dia kado buku (semoga dia gak buka blog saya,amin) yang isinya foto-foto kita jaman SMA. Sewaktu saya liat foto-foto pas di jaman kami lagi ababil dan cupu itu, saya jadi kangen. Ternyata sudah hampir dua tahun saya lulus dari bangku SMA. Waktu terbang cepat sekali ya. Meninggalkan banyak kenangan di belakang… :’)

Selaluu saja ada yang bisa diceritakan dari SMA. Masa-masa suram, bahagia, ababil, kekanak-kanakan. Masa-masa dimana ada banyak mimpi :)

Dan dulu, segala hal terlihat sederhana. Meskipun sekolah sampai sore dan masih dilanjut les ini itu, tapi rasanya nggak seberat kuliah plus tugas-tugasnya.  Bahkan, dulu waktu putus pun gak semenyakitkan saat kuliah ini (lah, malah curcol)

Satu hal yang paling mencolok adalah, saat ini, teman-teman SMA saya rupanya sudah melesat jauh di depan saya. Sudah banyak yang keliling dunia, ikut konfrensi di luar negeri, membelah cadaver, membuat nirmana, ngurusin pensi RAN dan RAISA (nglirik Rayna). Saya? Saya sungguh cuma sekecil upil dibanding mereka.

Ah,upil rasanya juga masih terlalu besar. Ralat kalau begitu. Saya sungguh cuma sekecil upil semut dibanding mereka. (emang semut ngupil, Vit?)

Satu-satunya hal yang bisa saya banggakan yaitu, menjadi keluarga besar penerima beasiswa CIMB Niaga. Sudah, hanya itu. Saya rasa itu adalah hal yang paling mengharu-biru dalam hidup saya. I’m very blessed. Kadang, saya masih nggak yakin kenapa orang seperti saya bisa menerima amanah sebesar itu. *nangis*  *ambil kanebo*

Tapi, saya berjanji tahun ini saya berubah. Saya nggak akan membuat malu pihak-pihak yang sudah memberi saya beasiswa. Saya akan berprestasi.Kali ini bukan sekedar angan-angan coro atau kata-kata manis yang tertahan dalam lipatan lidah (ebuset, malah bikin puisi). Saya sudah mulai ikut-ikut lomba meskipun nggak berhasil juara apapun. But it worth a try, right?

Dan meskipun saya nggak pernah menang, tapi saya nggak menyerah. Because the difference between winner and loser is: winner never give up. Saya bolak-balik ngirim cerpen, ikut lomba fotografi, bahkan sampai ikut seleksi olimiade MIPA

By the way, saya punya cerita lucu (nggak lucu lucu amat sih, nggak perlu ketawa kok) tentang olimpiade MIPA yang saya ikuti beberapa minggu yang lalu. Saya bukan jajaran anak-anak pintar di kelas saya. Namun, di suatu sore yang sial, saya ditemui salah satu dosen saya yang galak, yang memaksa saya untuk ikut olimpiade matematika (atau yang nama bekennya ON-MIPA). Jeng jeng jeng jeng! Saya syok! Saya mungkin satu-satunya mahasiswa jurusan statistika tingkat 2 yang menghitung 8+6 saja masih pakai jari. Orang seperti saya ikut olimpiade?? Bumi gonjang-ganjing!

Tapi berhubung dosen yang nyuruh saya itu galak dan tegas banget, saya nggak berani nolak. Dengan terpaksa saya mengikuti seleksinya. Tiga hari saya membenamkan diri di tumpukan buku-buku yang isinya angka semua. 

 Rasa-rasanya pengen nangis

Di hari H, setelah registrasi dan mengambil snack, saya masuk ruangan. Setelah menunggu pembukaan dan formalitas lainnya, soal ujiannya dibagi. Saya membaca soalnya. Semenit, dua menit. Lima menit. Nggak ada yang saya pahami! Sepertinya, semua hasil belajar saya sudah menjadi buih di lautan sana. Bodo amat, begitu pikir saya. Saya hanya mengerjakan soal yang familiar. Sisanya, soal-soal dengan simbol-aneh-jaman-mesir-kuno, saya tinggal. Ah, saya kan mahasiswa statistika, kenapa disuruh mengerjakan soal-soal anak jurusan matematika. Jangan sangka statistika dan matematika sama saja. Meskipun mereka saudara beda ayah, lain ibu, tapi satu pembantu, mereka berbeda saudara-saudara! Beda! Ibaratnya, Matematika itu si Bawang Merah yang suka es krim rasa coklat-susu, sedangkan Statistika adalah si Bawang Putih yang suka es krim rasa susu-coklat. Sungguh berbeda.

Dan percaya atau nggak, dari dua jam waktu yang diberikan, saya cuma butuh 10-15 menit. Langsung deh, saya capcus keluar ruangan, toh saya di situ juga nggak ada gunanya lagi. Saat teman saya, Sarita, bertanya bagaimana seleksinya tadi, apakah sukses atau nggak, saya menjawab dengan muka bijaksana,  “Sudahlah, Sar, anggap saja aku nggak pernah ikut seleksi. Toh, aku ikut atau nggak, nggak ada bedanya.”

Yaah, ambil hikmahnya saja deh, paling nggak saya dapet snack.

Itu adalah salah satu kisah kegagalan dari saya. Sedih banget ya, rasanya seperti buang-buang waktu saja. Tapi kata Al Qur’an sih ya, di dunia ini nggak ada sesuatu yang sia-sia, bahkan kebaikan sekecil buah Zahra pun. Jadi semua usaha saya itu nggak sia-sia kan ya? Seperti menulis postingan ini misalnya.  Ih wow, ternyata saya sudah menulis banyak beuud! Alhamdulillah ya, meskipun sudah lama vakum, ternyata sense-menulis-nglantur saya belum hilang :’)

Sudah deh, cukup sekian dulu (lihat tugas yang melambai-lambai) Saya usahain bakalan lebih sering posting. Kalau mampir blog saya, komen dong. Biar saya jadi termotivasi untuk mengurusi blog saya lagi :D

See yaa, muah muah :*
Xoxo
Alvita Rd
 
Tauk- Ah - Gelap © 2008. Design by Pocket