Kamis, 27 Desember 2012

Tentang Laki-laki dan Sepakbola (dan kenapa wanita harus paham)

Kamis, 27 Desember 2012
Hampir seminggu ini saya tidur pagi terus, gara-gara hal bernama internet. Engga sadar liat jam tiba-tiba udah jam tiga dan baru setelah itu memaksakan diri untuk tidur.

Tapi saya engga bakal bahas tentang insomnia akut saya. Semalem (atau tadi pagi lebih tepatnya), saya chat sama teman saya yang jauuuh di Makassar sono. Bukan temen dekat saya sih sebenernya, tapi bukan orang asing juga. Pokoknya, tadi pagi entah kita ngomongin apa, tau-tau nyrempet ke masalah bola. Saya bukan penggemar bola, engga tau dan engga peduli info bola apapun itu, sedangkan teman saya itu penggila bola.

Lalu saya sambil bercanda bilang kalo cowok itu kalo udah  ketemu bola sampe lupa kalo dia punya pacar. Saya kasih contoh tentang pacar saya dulu, yang kalo buat smsan malem-malem aja susaaaaah banget. Ngantuk katanya. Tapi kalo ada bola tiba-tiba aja jadi makhluk nocturnal. Eh, temen saya itu nenggepinnya serius. Dan diabilang:

“ Bukan gitu kali maksudnya. Kita tuh gak selamanya bisa nemenin kalian kapanpun. Tapi ada kalanya kami nggak tidur, demi sesuatu yang kami cintai– misalnya kamu dan sepakbola. Itu kan dua hal yang beda. Masa kalian mau disamain sama sepakbola ? Hahaha. Jelas beda lagi porsinya. “

Dan untuk sebuah alasan sentimentil yang tidak masuk akal, saya melting.

Iya, melting, terharu, lalu pengen kayang. Udah sih, intinya saya mau cerita itu. Selesai. Tamat. Maaf sudah buang-buang waktu kalian buat baca postingan ga guna ini. *bow

Kamis, 08 November 2012

Sahabat Pulau

Kamis, 08 November 2012

“Berikan aku sepuluh pemuda, maka akan kuguncang dunia”- Ir. Soekarno

Mahasiswa. Apa tujuan teman-teman ketika menyandang ‘gelar’ mahasiswa? Mendapat IP cum laude? Aktif berorganisasi? Ngumpulin banyak sertifikat? Cuma itu? :)

Dalam Tri Dharma Perguruan Tinggi, salah satu tugas mahasiswa adalah pengabdian  kepada masyarakat. Disini, mahasiswa menempati lapisan kedua dalam relasi kemasyarakatan, yaitu berperan sebagai penghubung antara masyarakat dengan pemerintah. Meraih pendidikan setinggi-tingginya bukan satu-satunya kewajiban mahasiswa. Sudahkah teman-teman melakukan sesuatu yang berguna bagi masyarakat?



“Penurunan peringkat Indonesia dalam indeks pembangunan pendidikan untuk semua (Education for All) tahun 2011, salah satunya disebabkan tingginya angka putus sekolah di jenjang sekolah dasar. Sebanyak 527.850 anak atau 1,7 persen dari 31,05 juta anak SD putus sekolah setiap tahunnya.” (Sumber: Kompas.com)



Di Indonesia, tingkat kemiskinan yang tinggi membuat banyak anak yang putus sekolah. Pada usia yang sangat dini, mereka sudah membantu orangtua mencari nafkah. Banyak anak di pelosok negeri ini yang buta huruf karena kurangnya pendidikan. Kalau teman-teman saja yang lulusan perguruan tinggi kebingungan dalam mencari pekerjaan, bagaimana dengan mereka yang sama sekali tidak bisa baca tulis? Apakah mereka tidak berhak mempunyai mimpi?

Yuk, kita mulai berkontribusi buat pendidikan bangsa ini. Salah satunya dengan mengikuti program volunteering Sahabat Pulau dengan salah satu projectnya: “One Youth, One Child” Sesuai taglinenya, program ini memasangkan seorang kaum muda dengan seorang anak dalam hubungan ‘Kakak Asuh- Adik Asuh’ dimana Kakak Asuh akan berperan sebagai mentor atau motivator, bertanggungjawab untuk memotivasi adik asuhnya agar terus bersekolah, dan menyediakan fasilitas yang mendukung pendidikan adik asuh seperti buku dan seragam. Dengan segala keberuntungan kita dalam mengenyam pendidikan di perguruan tinggi, apa salahnya sih, memberi sedikit kepedulian dan kasih sayang buat adik-adik kita yang kurang beruntung? :)

Atau mungkin teman-teman terlalu sibuk untuk menjadi ‘Kakak Asuh’? Teman-teman juga bisa kok, membantu dalam program “Rumah Baca Harapan (RUBAH)”,yaitu sebuah konsep perpustakaan bagi anak-anak yang sulit mendapat akses ke perpustakaan. RUBAH sudah ada di Jakarta, Garut (Jawa Timur), Purbalingga (Jawa Tengah), Medan (Sumatra Utara), Bukulamba dan Pinrang (Sulawesi Selatan), dan saat ini sedang pembentukan di Semarang. Yuk, teman-teman bantu mengumpulkan buku anak-anak, buku pelajaran/ ilmu pengetahuan, majalah, alat tulis, dan seragam yang sudah tidak terpakai. Jangan merasa minder dan berpikir kalau bantuan teman-teman terlalu kecil, disini yang penting adalah ketulusannya. Seperti yang Bunda Teresa bilang, “We cannot all do great things, but we can do small things with great LOVE.” :)

Untuk referensi lebih lanjut, silahkan mengintip website resmi Sahabat Pulau, www.sahabatpulau.org atau follow @IDsahabatpulau. Atau cek http://hendriyadi89.wordpress.com/2012/01/18/kaspul-kakak-asuh-untuk-sahabat-pulau/

Because we believe educating children is the best investment that a country can make :)

nb: program Sahabat Pulau bukan hanya diperuntukkan untuk mahasiswa, tapi juga untuk semua lapisan masyarakat, baik yang sudah bekerja atau masih sekolah. Let's volunteer and make a better world :)

Minggu, 28 Oktober 2012

Pembeku Waktu

Minggu, 28 Oktober 2012

Pernah tidak, kamu berada dalam situasi dimana kamu harus melakukan sesuatu. Situasi yang harus kamu manfaatkan dengan sebaik-baiknya. Situasi yang kamu tahu tak akan terulang lagi, dan kamu pasti menyesal bila melewatkan kesempatan ini.

Tapi nyatanya, kamu tidak melakukan apa-apa. Bukan karena tidak mau, tapi karena tidak bisa. Kamu sama sekali tidak tahu apa yang harus kamu lakukan, dan kamu berakhir dengan duduk di kasur, memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang tak akan pernah terjadi, dan berharap Tuhan mau membekukan waktu, paling tidak sampai kamu menemukan sebuah cara.

Inilah yang terjadi sekarang. Setiap dia balik ke Semarang. Atau setiap saya ke Jakarta. Kesempatan yang hanya kejadian sekitar 2-3 kali setahun. I always get overly excited, then turn to overly depressed. Excited, saat mikir kalau saya bakal berjarak hanya beberapa kilometer dari dia. Depressed, saat dia sudah mau balik ke Depok dan saya belum dapat kesempatan buat bertemu dia.

I know I already reached a desperate stage when I pray,
“Tuhan, di Semarang cuma ada orang ratusan ribu sekian, dan saya cuma kepengen ketemu satu orang saja. Satu orang itu saja.”

Saya tahu saya adalah gadis bodoh yang lebih memilih bertahan. Sampai saya lupa bagaimana rasanya menyukai orang lain.

Kalau mantan saya bilang, “Perasaan itu siapa yang bisa ngatur sih.” Saya nggak setuju. Perasaan bisa dengan mudah dimanipulasi. Asal kita mau. Asal kita niat. Asal kita cukup bodoh untuk melakukan itu. Rindu— itu yang tidak bisa dimanipulasi. Saya bisa dengan gampang meyakinkan diri saya kalau saya sudah tidak menyukai dia, tapi rindu tidak bisa berbohong. Dan saat sekarang dia sedang di Semarang untuk beberapa hari, saya tahu saya harus melakukan satu hal: saya harus ketemu dia.

Supaya saya tahu, perasaan ini nyata atau ilusi. Supaya saya bisa mengucapkan selamat tinggal dengan diam-diam. Atau supaya saya bisa menyukainya lebih dalam dari yang sebelum-sebelumnya.

Entah. Yang jelas, saya ingin bertemu dia. Mungkin menatapnya dari kejauhan sudah cukup untuk meyakinkan diri saya, kalau saya menyukai orang yang nyata. Oh, well, sudah dua tahun lebih saya nggak ketemu dia, jadi kadang saya nggak yakin, orang yang setiap malam saya rindukan ini apakah benar-benar ada atau tokoh imajinasi saya saja.

Saya pengen ketemu dia, tapi sepertinya saya sudah kehabisan cara untuk menyadarkan dia bahwa saya ada. Jadi disinilah saya, duduk di kasur, memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang tak akan pernah terjadi, dan berharap saya punya mesin pembeku waktu — yang entah harus nyewa dimana.


Rabu, 26 September 2012

Tujuhbelas hari yang lalu

Rabu, 26 September 2012

Tujuhbelas hari yang lalu, aku ke kotamu. Untuk yang kesekian kalinya, aku memperpendek jarak diantara kita. Temanku bilang, hanya butuh waktu setengah jam untuk sampai ke tempatmu. Hanya setengah jam. Itu jarak tempuh yang lebih dekat daripada jalur rumahku ke kampus setiap hari. Hanya beberapa kilometer lagi, lalu aku bisa bertemu denganmu. Melihat senyummu, mendengar suaramu, menatapmu dalam batas penglihatan yang nyata. Ya, kamu. Kamu yang aku rindukan selama ini, kukagumi diam-diam.

Tujuhbelas hari yang lalu, aku memiliki kesempatan itu.

Tapi aku tidak mengambilnya. Aku hanya duduk dalam bisku, berusaha menyesap dalam-dalam aroma kota ini. Mengingat detail pertokoan di pinggir jalan. Dan meyakinkan diriku, aroma inilah yang kau hirup setiap pagi. Pemandangan inilah yang kau lihat setiap hari.

Sehingga, jika rinduku padamu tak tertahankan, aku hanya perlu membayangkan diriku dalam kota yang sama denganmu. Menghirup udara yang sama denganmu. Menatap jalanan yang sama denganmu. Berjalan dalam labirin mimpi, berjarak hanya setengah jam perjalanan darimu.

Dan yakinlah kau, saat kutemukan dirimu, aku akan berteriak, “Aku menyukaimu bodoh! Bertahun-tahun, dan kamu bahkan tidak menyadari keberadaanku!”

Tujuhbelas hari yang lalu. Aku bisa menurunkan barang bawaanku. Bergabung dengan sahabat-sahabat jauh itu, memesan taxi dan menempuh jarak setengah jam.

Tujuhbelas hari yang lalu. Aku bisa menghabiskan beberapa waktu di kota bernama Depok itu.

Tujuhbelas hari yang lalu. Aku bisa bertemu kamu.

Tapi tidak kulakukan.

Jumat, 06 April 2012

entah-mau-dikasih-judul-apa

Jumat, 06 April 2012
 

Selamat malam duniaa! *sibak tirai*

Di malam yang menggalaukan ini, saya iseng-iseng buka blog yang sudah lama ditinggalkan. Eh, ada beberapa yang komen! Ya ampun, saya terharu. Ternyata masih ada yang sudi mampir meskipun blog ini sudah beberapa abad gak keurus :’)

Liat tanggal terakhir kali saya posting, ternyata memang sudah lama banget ya, blog ini terlantar. Haah… *ambil Baygon*  *semprot kecoak di pojokan*

Eniwei, sebentar lagi sahabat saya, Haunina ulang tahun. Saya berencana mau ngasih dia kado buku (semoga dia gak buka blog saya,amin) yang isinya foto-foto kita jaman SMA. Sewaktu saya liat foto-foto pas di jaman kami lagi ababil dan cupu itu, saya jadi kangen. Ternyata sudah hampir dua tahun saya lulus dari bangku SMA. Waktu terbang cepat sekali ya. Meninggalkan banyak kenangan di belakang… :’)

Selaluu saja ada yang bisa diceritakan dari SMA. Masa-masa suram, bahagia, ababil, kekanak-kanakan. Masa-masa dimana ada banyak mimpi :)

Dan dulu, segala hal terlihat sederhana. Meskipun sekolah sampai sore dan masih dilanjut les ini itu, tapi rasanya nggak seberat kuliah plus tugas-tugasnya.  Bahkan, dulu waktu putus pun gak semenyakitkan saat kuliah ini (lah, malah curcol)

Satu hal yang paling mencolok adalah, saat ini, teman-teman SMA saya rupanya sudah melesat jauh di depan saya. Sudah banyak yang keliling dunia, ikut konfrensi di luar negeri, membelah cadaver, membuat nirmana, ngurusin pensi RAN dan RAISA (nglirik Rayna). Saya? Saya sungguh cuma sekecil upil dibanding mereka.

Ah,upil rasanya juga masih terlalu besar. Ralat kalau begitu. Saya sungguh cuma sekecil upil semut dibanding mereka. (emang semut ngupil, Vit?)

Satu-satunya hal yang bisa saya banggakan yaitu, menjadi keluarga besar penerima beasiswa CIMB Niaga. Sudah, hanya itu. Saya rasa itu adalah hal yang paling mengharu-biru dalam hidup saya. I’m very blessed. Kadang, saya masih nggak yakin kenapa orang seperti saya bisa menerima amanah sebesar itu. *nangis*  *ambil kanebo*

Tapi, saya berjanji tahun ini saya berubah. Saya nggak akan membuat malu pihak-pihak yang sudah memberi saya beasiswa. Saya akan berprestasi.Kali ini bukan sekedar angan-angan coro atau kata-kata manis yang tertahan dalam lipatan lidah (ebuset, malah bikin puisi). Saya sudah mulai ikut-ikut lomba meskipun nggak berhasil juara apapun. But it worth a try, right?

Dan meskipun saya nggak pernah menang, tapi saya nggak menyerah. Because the difference between winner and loser is: winner never give up. Saya bolak-balik ngirim cerpen, ikut lomba fotografi, bahkan sampai ikut seleksi olimiade MIPA

By the way, saya punya cerita lucu (nggak lucu lucu amat sih, nggak perlu ketawa kok) tentang olimpiade MIPA yang saya ikuti beberapa minggu yang lalu. Saya bukan jajaran anak-anak pintar di kelas saya. Namun, di suatu sore yang sial, saya ditemui salah satu dosen saya yang galak, yang memaksa saya untuk ikut olimpiade matematika (atau yang nama bekennya ON-MIPA). Jeng jeng jeng jeng! Saya syok! Saya mungkin satu-satunya mahasiswa jurusan statistika tingkat 2 yang menghitung 8+6 saja masih pakai jari. Orang seperti saya ikut olimpiade?? Bumi gonjang-ganjing!

Tapi berhubung dosen yang nyuruh saya itu galak dan tegas banget, saya nggak berani nolak. Dengan terpaksa saya mengikuti seleksinya. Tiga hari saya membenamkan diri di tumpukan buku-buku yang isinya angka semua. 

 Rasa-rasanya pengen nangis

Di hari H, setelah registrasi dan mengambil snack, saya masuk ruangan. Setelah menunggu pembukaan dan formalitas lainnya, soal ujiannya dibagi. Saya membaca soalnya. Semenit, dua menit. Lima menit. Nggak ada yang saya pahami! Sepertinya, semua hasil belajar saya sudah menjadi buih di lautan sana. Bodo amat, begitu pikir saya. Saya hanya mengerjakan soal yang familiar. Sisanya, soal-soal dengan simbol-aneh-jaman-mesir-kuno, saya tinggal. Ah, saya kan mahasiswa statistika, kenapa disuruh mengerjakan soal-soal anak jurusan matematika. Jangan sangka statistika dan matematika sama saja. Meskipun mereka saudara beda ayah, lain ibu, tapi satu pembantu, mereka berbeda saudara-saudara! Beda! Ibaratnya, Matematika itu si Bawang Merah yang suka es krim rasa coklat-susu, sedangkan Statistika adalah si Bawang Putih yang suka es krim rasa susu-coklat. Sungguh berbeda.

Dan percaya atau nggak, dari dua jam waktu yang diberikan, saya cuma butuh 10-15 menit. Langsung deh, saya capcus keluar ruangan, toh saya di situ juga nggak ada gunanya lagi. Saat teman saya, Sarita, bertanya bagaimana seleksinya tadi, apakah sukses atau nggak, saya menjawab dengan muka bijaksana,  “Sudahlah, Sar, anggap saja aku nggak pernah ikut seleksi. Toh, aku ikut atau nggak, nggak ada bedanya.”

Yaah, ambil hikmahnya saja deh, paling nggak saya dapet snack.

Itu adalah salah satu kisah kegagalan dari saya. Sedih banget ya, rasanya seperti buang-buang waktu saja. Tapi kata Al Qur’an sih ya, di dunia ini nggak ada sesuatu yang sia-sia, bahkan kebaikan sekecil buah Zahra pun. Jadi semua usaha saya itu nggak sia-sia kan ya? Seperti menulis postingan ini misalnya.  Ih wow, ternyata saya sudah menulis banyak beuud! Alhamdulillah ya, meskipun sudah lama vakum, ternyata sense-menulis-nglantur saya belum hilang :’)

Sudah deh, cukup sekian dulu (lihat tugas yang melambai-lambai) Saya usahain bakalan lebih sering posting. Kalau mampir blog saya, komen dong. Biar saya jadi termotivasi untuk mengurusi blog saya lagi :D

See yaa, muah muah :*
Xoxo
Alvita Rd
 
Tauk- Ah - Gelap © 2008. Design by Pocket