Rabu, 26 September 2012

Tujuhbelas hari yang lalu

Rabu, 26 September 2012

Tujuhbelas hari yang lalu, aku ke kotamu. Untuk yang kesekian kalinya, aku memperpendek jarak diantara kita. Temanku bilang, hanya butuh waktu setengah jam untuk sampai ke tempatmu. Hanya setengah jam. Itu jarak tempuh yang lebih dekat daripada jalur rumahku ke kampus setiap hari. Hanya beberapa kilometer lagi, lalu aku bisa bertemu denganmu. Melihat senyummu, mendengar suaramu, menatapmu dalam batas penglihatan yang nyata. Ya, kamu. Kamu yang aku rindukan selama ini, kukagumi diam-diam.

Tujuhbelas hari yang lalu, aku memiliki kesempatan itu.

Tapi aku tidak mengambilnya. Aku hanya duduk dalam bisku, berusaha menyesap dalam-dalam aroma kota ini. Mengingat detail pertokoan di pinggir jalan. Dan meyakinkan diriku, aroma inilah yang kau hirup setiap pagi. Pemandangan inilah yang kau lihat setiap hari.

Sehingga, jika rinduku padamu tak tertahankan, aku hanya perlu membayangkan diriku dalam kota yang sama denganmu. Menghirup udara yang sama denganmu. Menatap jalanan yang sama denganmu. Berjalan dalam labirin mimpi, berjarak hanya setengah jam perjalanan darimu.

Dan yakinlah kau, saat kutemukan dirimu, aku akan berteriak, “Aku menyukaimu bodoh! Bertahun-tahun, dan kamu bahkan tidak menyadari keberadaanku!”

Tujuhbelas hari yang lalu. Aku bisa menurunkan barang bawaanku. Bergabung dengan sahabat-sahabat jauh itu, memesan taxi dan menempuh jarak setengah jam.

Tujuhbelas hari yang lalu. Aku bisa menghabiskan beberapa waktu di kota bernama Depok itu.

Tujuhbelas hari yang lalu. Aku bisa bertemu kamu.

Tapi tidak kulakukan.

 
Tauk- Ah - Gelap © 2008. Design by Pocket