Minggu, 28 Oktober 2012

Pembeku Waktu

Minggu, 28 Oktober 2012

Pernah tidak, kamu berada dalam situasi dimana kamu harus melakukan sesuatu. Situasi yang harus kamu manfaatkan dengan sebaik-baiknya. Situasi yang kamu tahu tak akan terulang lagi, dan kamu pasti menyesal bila melewatkan kesempatan ini.

Tapi nyatanya, kamu tidak melakukan apa-apa. Bukan karena tidak mau, tapi karena tidak bisa. Kamu sama sekali tidak tahu apa yang harus kamu lakukan, dan kamu berakhir dengan duduk di kasur, memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang tak akan pernah terjadi, dan berharap Tuhan mau membekukan waktu, paling tidak sampai kamu menemukan sebuah cara.

Inilah yang terjadi sekarang. Setiap dia balik ke Semarang. Atau setiap saya ke Jakarta. Kesempatan yang hanya kejadian sekitar 2-3 kali setahun. I always get overly excited, then turn to overly depressed. Excited, saat mikir kalau saya bakal berjarak hanya beberapa kilometer dari dia. Depressed, saat dia sudah mau balik ke Depok dan saya belum dapat kesempatan buat bertemu dia.

I know I already reached a desperate stage when I pray,
“Tuhan, di Semarang cuma ada orang ratusan ribu sekian, dan saya cuma kepengen ketemu satu orang saja. Satu orang itu saja.”

Saya tahu saya adalah gadis bodoh yang lebih memilih bertahan. Sampai saya lupa bagaimana rasanya menyukai orang lain.

Kalau mantan saya bilang, “Perasaan itu siapa yang bisa ngatur sih.” Saya nggak setuju. Perasaan bisa dengan mudah dimanipulasi. Asal kita mau. Asal kita niat. Asal kita cukup bodoh untuk melakukan itu. Rindu— itu yang tidak bisa dimanipulasi. Saya bisa dengan gampang meyakinkan diri saya kalau saya sudah tidak menyukai dia, tapi rindu tidak bisa berbohong. Dan saat sekarang dia sedang di Semarang untuk beberapa hari, saya tahu saya harus melakukan satu hal: saya harus ketemu dia.

Supaya saya tahu, perasaan ini nyata atau ilusi. Supaya saya bisa mengucapkan selamat tinggal dengan diam-diam. Atau supaya saya bisa menyukainya lebih dalam dari yang sebelum-sebelumnya.

Entah. Yang jelas, saya ingin bertemu dia. Mungkin menatapnya dari kejauhan sudah cukup untuk meyakinkan diri saya, kalau saya menyukai orang yang nyata. Oh, well, sudah dua tahun lebih saya nggak ketemu dia, jadi kadang saya nggak yakin, orang yang setiap malam saya rindukan ini apakah benar-benar ada atau tokoh imajinasi saya saja.

Saya pengen ketemu dia, tapi sepertinya saya sudah kehabisan cara untuk menyadarkan dia bahwa saya ada. Jadi disinilah saya, duduk di kasur, memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang tak akan pernah terjadi, dan berharap saya punya mesin pembeku waktu — yang entah harus nyewa dimana.


2 komentar:

siroel mengatakan...

kisahnya ngenes bgt ya...
moga Tuhan memberikan jalan terbaik...

adul hallud mengatakan...

hanya orang pintar yang bisa berpura-pura bodoh,.,
anda ini bukan gaddis bodoh,. tapi gadis yang belum mengetahui segala hal yng belum diketahui,., *asalceplos.

Posting Komentar

 
Tauk- Ah - Gelap © 2008. Design by Pocket